Rabu, 14 Desember 2011

Realis TEMILREG V FoSSEI SumBagTeng

oleh Puteri Istianti pada 14 Desember 2011 pukul 18:27
Assalamu'alaikum wr. wb.
lebih dan kurangnya kami selaku panitia pelaksana memohon maaf yang sebesar besarnya.
created by: Co. Public Relation KSEI FOKUS FE UNJA

Rabu, 19 Oktober 2011

Manajemen Diri Aktivis Dakwah



“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh (manusia) kepada yang ma’ruf dan mencegah (manusia) dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron [3] : 110)

Dalam sebuah dialog tentang permasalahan umat Islam saat ini, ada sebuah analisa bahwa salah satu penyebab ‘kegagalan’ umat Islam adalah karena kurang adanya koordinasi dan kerjasama yang baik antar sesama umat Islam. Padahal umat lain sepertinya melaksanakan agenda-agenda mereka dengan teratur, rapi, terkoordinir dan jelas dengan dukungan finansial yang kuat.
Pendapat lain mengatakan bahwa karena umat Islam sendiri yang belum bekerja dengan maksimal dan belum menunjukkan prestasi yang menggembirakan dalam mengembangkan dakwah ini. Tidak banyak prestasi yang diukir oleh para pemikir Islam, para ilmuwan, ulama maupun para profesional lain kecuali hanya beberapa orang yang jumlahnya bisa dihitung.
Prestasi ! Sebuah kata yang menunjukkan keberhasilan seseorang mencapai kesuksesan maupun keberhasilan, apapun bentuknya. Petani yang bekerja setiap hari mencangkul, menanam, mengairi sawah, menyiangi tanaman, merawat, memberi pupuk sampai menjaga dari serangan tikus, maka saat ia panen dan mendapatkan hasil yang melimpah, maka itulah prestasi seorang petani.  Seorang pejuang yang berhasil melumpuhkan lawannya bahkan sampai memporak-porandakan pasukan musuh juga dinamakan orang yang berprestasi. Seorang pelajar atau mahasiswa yang berhasil meraih peringkat (rangking) di kelasnya adalah pelajar berprestasi. Demikian juga seorang da’i juga memiliki kesempatan mengukir prestasi yang memuaskan dalam dakwahnya.

Etos Kerja Pelaku Dakwah
Salah satu kiat mencapai sukses seperti yang disebutkan dalam buku “Menjadi Pribadi Sukses” terbitan Asy-Syamil, 2002 adalah dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen dalam aktivitasnya. Dan menerapkan prinsip manajemen dalam dakwah bukan merupakan hal yang dilarang namun justru menjadi keniscayaan yang akan meningkatkan produktivitas dakwah. Penerapan prinsip seperti ini jika dilakukan dengan konsisten dan terus menerus (istimrar) maka akan menjadi etos kerja orang tersebut.
Paling tidak ada 5 prinsip yang dapat dijadikan landasan bagi pelaku dakwah untuk melakukan tugas-tugas dakwah:

1.      Kerja Keras (Mujahadah)
Prinsip kerja yang pertama yang harus dimiliki oleh seorang muslim sebagai pribadi yang unggul adalah kemauan untuk selalu bekerja keras. Dalam Islam kita mengenal satu kata yang menjadi idiom bahkan maknanya menjadi begitu dahsyat manakala idiom tersebut diaplikasikan dalam kehidupan umatnya, yakni Jihad! Jihad dalam arti apapun telah mampu membangkitkan semangat juang yang tinggi bagi pemeluknya. Ketika jihad diartikan sebagai “berperang di jalan Allah” maka kata tersebut telah mampu membuat umat Islam berjuang dengan jiwa dan raga untuk menegakkan kemulian Islam ketika ada musuh yang menginjak-injak kehormatan agamanya.
Sedangkan ketika kata tersebut diartikan sebagai “bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan sesuatu - yang tentunya sesuai dengan syariat Allah-” maka idiom ini mampu menumbuhkan motivasi dengan amat dahsyat bagi orang yang meyakini.
Allah telah menjanjikan balasan akan kesuksesan yang luar biasa bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh ini dalam firman-Nya “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Ankabut [26]:69)
Dan dengan kerja keras inilah Muhammad SAW berhasil mendakwahkan Islam sampai ke seluruh pelosok negeri Arab, bahkan telah berhasil menumbuhkan kader-kader yang mampu membawa perubahan besar terhadap peradaban dunia. Dengan kerja keras pula kita akan mampu mencapai kesuksesan hidup. Maka hanya orang-orang yang berkerja keras pula lah yang berhasil menciptakan prestasi besar.

2.      Kerja Cerdas (Profesional)
Hanya bekerja keras tanpa perencanaan yang cerdas kemungkinan besar juga akan menghasilkan kualitas yang tidak optimal. Oleh karena itu disamping semangat bekerja keras masih dibutuhkan daya pikir yang kuat dan perencanaan yang matang. Maka Rasulullah menempuh langkah cerdas tatkala hendak melaksanakan hijrah ke Yastrib. Perencanaan yang matang beliau lakukan dengan pembagian tugas dan optimalisasi sumberdaya yang ia miliki. Maka Rasul memilih Abu Bakar Ash Shiddiq dari golongan tua sebagai pendamping perjalanan, Ali yang punya semangat berkorban tinggi dipilih menggantikan posisi beliau di rumahnya, Asma yang cerdas dan cekatan mendapat tugas untuk support logistik dan sebagainya. Termasuk langkah cerdas memilih arah perjalanan secara memutar ke arah yang bertentangan dengan Yastrib adalah pilihan yang ditetapkan secara matang.
Demikian juga para pelaku dakwah saat ini masih dituntut untuk dapat menerapkan pola-pola kerja yang cerdas dan melaksanakan setiap kegiatan secara profesional. Ketika itulah sebuah proyek dakwah sekecil apapun bentuknya akan mendapatkan porsi perhatian yang proporsional bagi mereka. Diharapkan tidak ada lagi tumpang tindih pekerjaan, mis understanding antar pengurus, rapi, teratur, sistematis dan dilengkapi dengan pengaturan administratif yang baik.
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh. (QS. Ash Shaff [61]:4)”

3.      Kerja Tuntas
Setelah memulai untuk melakukan pekerjaan maka ia hendaknya meneruskan sampai perkerjaan tersebut selesai dengan baik. Salah satu kebiasaan yang kadangkala menghinggapi para aktivis dakwah adalah meninggalkan PR (pekerjaan rumah) bagi saudaranya yang lain. Ketika ia dipercaya untuk mengemban amanah maka ia lebih mengandalkan orang lain sedangkan ia sendiri melakukan pekerjaan lainnya lagi. Bahkan ada diantaranya yang justru meninggalkan pekerjaannya untuk orang lain.
Padahal menyelesaikan pekerjaan secara tuntas adalah bukti bahwa seseorang telah mampu mengatur waktunya dengan baik. Karena ia menyadari sedemikian berharganya sang waktu dengan asumsi ia dapat melakukan pekerjaan lain atau meneruskan pekerjaan selanjutnya ketika ia telah menyelesaikan satu pekerjaan.
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.“ (QS. 94:7-8)
 Disamping itu, secara psikologis seseorang akan merasa puas jika ia telah menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik. Pengaruh psikologis ini akan membawa motivasi baru bagi orang tersebut untuk meningkatkan kualitas pada pekerjaan selanjutnya.

4.      Kerja Mawas
Tahapan selanjutnya setelah melakukan pekerjaan maka hendaklah membuat evaluasi atas pekerjaan tersebut. Evaluasi ini penting sebagai bahan untuk menilai pekerjaan yang telah kita lakukan sekaligus untuk memperbaiki semua kekurangan yang ada. Dengan evaluasi ini juga akan dilakukan peningkatan mutu dan kualitas pekerjaan.
Pengingkatan mutu dan kualitas pekerjaan dapat dilakukan dengan cara mempelajari ilmu-ilmu  terkait dengan pekerjaan, memperbaiki sistem yang ada saat ini untuk dirubah dengan sistem baru yang lebih baik.
Aktivitas mawas ini juga adalah sebagai sarana instrospeksi bagi para penyelenggara proyek dakwah untuk menilai dan melakukan perbaikan. Bekerja mawas juga adalah dengan cara mengembalikan semua urusan kepada Allah dan meyakini bahwa Allah lah yang mengatur seluruh kejadian di alam ini. Maka tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa kehendak-Nya.
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan pada diri mereka sendiri.“ (QS. Ar-Ra’d [13]:11)

5.      Kerja Ikhlas
Dan sebagaimana kita ketahui bahwa ujung setiap amal ada pada tingkat keikhlasan amal yang ia lakukan. Kerelaan menjalankan tugas-tugas dakwah, kerelaan untuk mengorbankan kenikmatan dunia untuk kebahagiaan akhirat, kerelaan untuk tidak mengeluh atas beban yang ia pikul adalah sebuah bentuk lain keikhlasan.
Pekerjaan yang dilakukan dengan ikhlas tanpa suatu paksaan tentunya juga akan menghasilkan kualitas yang lebih bagus apalagi jika pekerjaan tersebut dilakukan hanya untuk mencari ridha Allah, maka ia kan menjadi pekerjaan yang memiliki hasil ganda, yakni hasil yang ia dapat dari pekerjaan tersebut secara langsung (gaji, prestasi) maupun hasil yang ia petik dihari akhir berupa pahala.
Diperlukan Manajemen yang Rapi dalam Dakwah
Untuk mencapai semua keberhasilan atas prinsip-prinsi yang disampaikan di atas, masih ada yang menjadi titik berat dalam keberhasilan dakwah, yakni diperlukannya sebuah manajemen yang rapi dalam organisasi dakwah. Kejelasan distribusi tugas dan tanggungjawab adalah wujud nyata kefektifan sebuah organisasi. Setelah itu akan kita temukan organisasi yang solid, sarat dengan koordinasi dan jika semuanya telah tertata rapi, permasalahan finansial akan dengan mudah teratasi.
Dan manajemen yang rapi dalam sebuah barisan akan tercermin dari pribadi-pribadi yang ter-manage dengan baik. Ibarat shaf shalat, maka andil sesorang dalam mencapai kekhusyukan sholat jamaah sangat diperlukan bahkan mutlak diperlukan.

5 Perusak Hati



Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerusakan adalah niscaya dan wajib.

Tentang perusak hati, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada lima perkara, 'bergaul dengan banyak kalangan (baik dan buruk), angan-angan kosong, bergantung kepada selain Allah, kekenyangan dan banyak tidur.'

Bergaul dengan banyak kalangan

Pergaulan adalah perlu, tapi tidak asal bergaul dan banyak teman. Pergaulan yang salah akan menimbulkan masalah. Teman-teman yang buruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang negatif.

Dalam tataran riel, kita sering menyaksikan orang yang hancur hidup dan kehidupannya gara-gara pergaulan. Biasanya out put semacam ini, karena motivasi bergaulnya untuk dunia. Dan memang, kehancuran manusia lebih banyak disebabkan oleh sesama manusia. Karena itu, kelak di akhirat, banyak yang menyesal berat karena salah pergaulan. Allah berfirman:
"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata, 'Aduhai (dulu) kiranya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku." (Al-Furqan: 27-29).

"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (Az-Zukhruf: 67).

"Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain), dan tempat kembalimu adalah Neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolong." (Al-Ankabut: 25).

Inilah pergaulan yang didasari oleh kesamaan tujuan duniawi. Mereka saling mencintai dan saling membantu jika ada hasil duniawi yang diingini. Jika telah lenyap kepentingan tersebut, maka pertemanan itu akan melahirkan duka dan penyesalan, cinta berubah menjadi saling membenci dan melaknat.

Karena itu, dalam bergaul, berteman dan berkumpul hendaknya ukuran yang dipakai adalah kebaikan. Lebih tinggi lagi tingkatannya jika motivasi pertemanan itu untuk mendapatkan kecintaan dan ridha Allah.

Larut dalam angan-angan kosong

Angan-angan kosong adalah lautan tak bertepi. Ia adalah lautan tempat berlayarnya orang-orang bangkrut. Bahkan dikatakan, angan-angan adalah modal orang-orang bangkrut. Ombak angan-angan terus mengombang-ambingkannya, khayalan-khayalan dusta senantiasa mempermainkannya. Laksana anjing yang sedang mempermainkan bangkai.

Angan-angan kosong adalah kebiasaan orang yang berjiwa kerdil dan rendah. Masing-masing sesuai dengan yang diangankannya. Ada yang mengangankan menjadi raja atau ratu, ada yang ingin keliling dunia, ada yang ingin mendapatkan harta kekayaan melimpah, atau isteri yang cantik jelita. Tapi itu hanya angan-angan belaka.

Adapun orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia, maka cita-citanya adalah seputar ilmu, iman dan amal shalih yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan ini adalah cita-cita terpuji. Adapun angan-angan kosong ia adalah tipu daya belaka. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memuji orang yang bercita-cita terhadap kebaikan.

Bergantung kepada selain Allah

Ini adalah faktor terbesar perusak hati. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dari bertawakkal dan bergantung kepada selain Allah.
Jika seseorang bertawakkal kepada selain Allah maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia bergantung kepadanya. Allah akan menghinakannya dan menjadikan perbuatannya sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari Allah, juga tidak dari makhluk yang ia bergantung kepadanya. Allah berfirman, artinya:
"Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka." (Maryam: 81-82)

"Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka." (Yasin: 74-75)

Maka orang yang paling hina adalah yang bergantung kepada selain Allah. Ia seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan di bawah rumah laba-laba. Dan rumah laba-laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh. Lebih dari itu, secara umum, asal dan pangkal syirik adalah dibangun di atas ketergantungan kepada selain Allah. Orang yang melakukannya adalah orang hina dan nista. Allah berfirman, artinya: "Janganlah kamu adakan tuhan lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)." (Al-Isra': 22)

Terkadang keadaan sebagian manusia tertindas tapi terpuji, seperti mereka yang dipaksa dengan kebatilan. Sebagian lagi terkadang tercela tapi menang, seperti mereka yang berkuasa secara batil. Sebagian lagi terpuji dan menang, seperti mereka yang berkuasa dan berada dalam kebenaran. Adapun orang yang bergantung kepada selain Allah (musyrik) maka dia mendapatkan keadaan yang paling buruk dari empat keadaan manusia, yakni tidak terpuji dan tidak ada yang menolong.

Makanan

Makanan perusak ada dua macam.

Pertama , merusak karena dzat/materinya, dan ia terbagi menjadi dua macam. Yang diharamkan karena hak Allah, seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam. Kedua, yang diharamkan karena hak hamba, seperti barang curian, rampasan dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya, baik karena paksaan, malu atau takut terhina.

Kedua, merusak karena melampaui ukuran dan takarannya. Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan kelewat batas. Sebab yang demikian itu membuatnya malas mengerjakan ketaatan, sibuk terus-menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya. Jika telah kekenyangan, maka ia merasa berat dan karenanya ia mudah mengikuti komando setan. Setan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa mempersempit aliran darah dan menyumbat jalannya setan. Sedangkan kekenyangan memperluas aliran darah dan membuat setan betah tinggal berlama-lama. Barangsiapa banyak makan dan minum, niscaya akan banyak tidur dan banyak merugi.

Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan: "Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi perutnya (dengan makanan dan minuman). Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap (makanan) yang bisa menegakkan tulang rusuknya. Jika harus dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya." (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani).

Kebanyakan tidur

Banyak tidur mematikan hati, memenatkan badan, menghabiskan waktu dan membuat lupa serta malas. Di antara tidur itu ada yang sangat dibenci, ada yang berbahaya dan sama sekali tidak bermanfaat. Sedangkan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur saat sangat dibutuhkan.

Segera tidur pada malam hari lebih baik dari tidur ketika sudah larut malam. Tidur pada tengah hari (tidur siang) lebih baik daripada tidur di pagi atau sore hari. Bahkan tidur pada sore dan pagi hari lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya.

Di antara tidur yang dibenci adalah tidur antara shalat Shubuh dengan terbitnya matahari. Sebab ia adalah waktu yang sangat strategis. Karena itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk ibadah, mereka tidak mau tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Sebab waktu itu adalah awal dan pintu siang, saat diturunkan dan dibagi-bagikannya rizki, saat diberikannya barakah. Maka masa itu adalah masa yang strategis dan sangat menentukan masa-masa setelahnya. Karenanya, tidur pada waktu itu hendaknya karena benar-benar sangat terpaksa.

Secara umum, saat tidur yang paling tepat dan bermanfaat adalah pada pertengahan pertama dari malam, serta pada seperenam bagian akhir malam, atau sekitar delapan jam. Dan itulah tidur yang baik menurut pada dokter. Jika lebih atau kurang daripadanya maka akan berpengaruh pada kebiasaan baiknya. Termasuk tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur pada awal malam hari, setelah tenggelamnya matahari. Dan ia termasuk tidur yang dibenci Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam .

(Disadur dari Mufsidaatul Qalbi Al-Khamsah, min kalami Ibni Qayyim Al-Jauziyyah)

Adab Berbisik



Rasulullah Saw bersabda, "Jika kamu bertiga maka janganlah dua orang saling berbisik tanpa yang lainnya, sehingga kamu bercampur dengan orang-orang, sebab hal itu akan menyedihkannya."
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al-Bukhariy, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidziy, Ibnu Majah, Ad-Daarimiy. Dalam Shahih al-Bukhari tercatat pada Kitabul-Isti-dzaan, pada Shahih Muslim, Kitabus-Salam, sedangkan pada Sunan Abi Dawud , Kitabul-Adab. Dalam kitab Bulughul Maram tercatat pada Baabul-Birri was Shillah dari Abdullah bin Mas'ud dengan riwayat Muttafaq alayh. Dengan demikian hadits ini dinilai shahih.
Lafazh hadits yang diriwayatkan oleh para imam di atas berbeda-beda namun maknanya sama. Lafazh yang tertera di atas adalah dari Muslim melalui sanad Yahya bin Yahya dari Abu Mu'awiyah, dari A'masy, dari Syaqiq, dari Abdullah bin Mas'ud r.a.
Yatanaajaa berasal dari kata Munajat, tanajiy, atau najwa artinya berbisik, berbicara rahasia, atau berbicara pelan. Berdo'a kepada Allah dengan nada rendah dan suara lemah disebut munajat. Ada beberapa alasan mengapa orang berbisik; karena suaranya takut mengganggu orang yang sedang tidur. Karena pembicaraannya takut diketahui orang lain, karena malu bila orang lain tahu, atau karena ingin mengganggu perasaan orang lain. Pada asalnya berbicara rahasia atau berbisik itu hukumnya mubah atau boleh. Tetapi bila mengganggu perasaan orang lain hukumnya menjadi haram sekalipun yang dibicarakannya itu tidak menyinggung.
Islam itu agama sempurna, yang sengaja diturunkan Allah untuk kebahagiaan dan kemaslahatan hidup manusia di dunia dan akhirat, sampai urusan berbisik pun ada aturannya. Berbisik itu memang urusan kecil tetapi bisa berakibat besar; akan menimbulkan perpecahan, permusuhan bahkan pembunuhan.
Ibnu Asbi Hatim meriwayatkan dari Muqatil bin Hayyan, "Bahwa di antara Nabi Saw dan kaum Yahudi terdapat perjanjian: tidak saling bermusuhan. Tetapi kenyataannya apabila salah seorang shahabat lewat di hadapan mereka, mereka duduk berbisik-bisik, sehingga shahabat yang lewat itu menyangka bahwa nereka berunding untuk membunuhnya atu menggunjingnya. Karena itu Rasulullah Saw melarang mereka berbisik di hadapan orang lain, tetapi larangan itu tidak diindahkan. Kemudian Allah menurunkan ayat,

"Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang berbisik-bisik, kemudian mereka mengulangi perbutan itu. Mereka berbisik itu untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Bila datang kepadamu mereka mengucapkan salam kepadamu dengan salam yang bukan ditentukan Allah untukmu. Mereka berkata pada dirinya, "Mengapa Allah tidak menyiksa dengan sebab yang kita katakan itu?" Cukuplah bagi mereka jahannam, mereka akan memasukinya. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali." (QS al-Mujadalah : 8).

Ayat di atas selain melarang berbisik yang menimbulkan permusuhan, Allah melarang kita membisikkan untuk berbuat dosa. Allah Maha mengetahu apa yang kita bisikan,
"Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit-langit dan apa yang ada di bumi. Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia-lah yang keempatnya, dan tiada pembicaraan antara lima orang melainkah Dia-lah yang keenamnya, dan tiada pula pembicaraan anatara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka. Di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan, Sesungguhnya Al;lah Maha mengetahui segala sesuatu." (QS al-Mudilah : 7)

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan itu Rasulullah Saw melarang berbisik berdua tanpa melibatkan yang ketiga, jika bertiga. Ibnu Umar r.a yang juga meriwayatkan hadits ini dalam Sunan Abi Dawud ditanya oleh muridnya, Abu Shalih, "Bagaimana jika dua orang yang berbisik jika mereka berempat?" jawab beliau. "itu tidak apa-apa" tetapi walau pun demikian kita harus melihat situasi, jangan sampai yang dua orang lagi merasa curiga tidak diajak bicara yang akhirnya akan berbuat yang sama.
Imam an-Nawaawiy menyatakan, "Hadits-hadits yang melarang berbisik berdua di hadapan temannya yang ketiga, mengandung pengertian bahwa berbisik tiga orang atau lebih dengan mengucilkan seorang dari antara mereka padahal ia tahu, menunjukkan haram.
Ibnu Umar r.a, Imam Malik, dan ulama jumhur berpendapat, bahwa larangan ini berlaku di semua tempat dan waktu, di tempat sendiri atau dalam keadaan safar. Walaupun ada yang mengatakan bahwa aturan ini berlaku pada permulaan Islam.
Rasulullah saw bersabda, "Hattaa takhtalithu bin-Naasi" (sehingga mereka bergabung dengn orang banyak).Dengan kalimat itu menunjukkan bahwa jika diperlukan untuk berbisik sekalipun takut diketahui oleh temannya yang ketiga, maka lakukanlah ketika banyak orang, sebab hal itu tidak akan menyinggung perasaannya. Ibnu Umar r.a jika merasa perlu untuk berbisik berdua bila ia bertiga, ia mencari orang lain kemudian minta izin untuk berbicara berdua.
Berbisik berdua atau bertiga di hadapan orang banyak tidak terlarang. Pada suatu saat Rasulullah Saw sedang membagikan harta. Ada seorang anshar berkata, sesungguhnya pembagian ini tidak dikehendaki oleh Allah. Ibnu Umar r.a menegur orang itu dan baersumpah akan melaporkan kepada Rasulullah Saw, kemudian ia berbisik kepada Rasulullah Saw di hadapan orang banyak, Beliau marah sampai merah wajahnya dan bersabda, "Semoga rahmat Allah dicurahkan kepada Nabi Musa a.s, beliau sering disakiti dengan hal-hal yang lebih daripada ini, tetapi beliau sabar." (HR al-Bukhariy).
Anas bin Malik r.a pernah bercerita,
"Telah dikumandangkan iqomah shalat, sedangkan seseorang berbisik kepada Rasulullah Saw, terus saja ia berbisik sehingga para shahabat tertidur kemudian beliau berdiri dan shalat (mengimami)." Al-Bukhariy memberi nama "Baabul-Imami ta'ridlu lahul-haajatu" (Bab imam yang terhalang oleh kepentingan). (HR al-Bukhariy).
Islam mengatur adab dan kesopanan bila meihat orang yang berbisik berdua atau bertiga, kita dilarang mendekatinya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Sa'id, bahwa Nabi Saw bersabda,
"Apabila dua orang sedang berbisik-bisik maka janganlah selain mereka masuk, sebelum minta izin."
Mendekati orang yang berbisik sudah dilarang apalagi mangintip atau memata-matai pembicaraan mereka. Rasulullah Saw bersabda,
"Siapa yang mengintip pembicaraan suatu kaum padahal mereka tidak suka kepadanya, niscaya akan dituangkan ke kedua telinganya timah pada hari kiamat" (HR al-Bukhariy)
Agar kita terhindar dari bisikan-bisikan syetan, hendaklah kita berlindung kepada Allah yang Mengurus manusia, Tuhan manusia, Raja manusia dari kejahatan bisikan yang selalu mengintai, yang berbisik di hati-hati manusia dari golongan jin dan manusia.
Wallahu a'lamu

KETIKA IBLIS MEMBENTANGKAN SAJADAH


KETIKA IBLIS MEMBENTANGKAN SAJADAH


Siang menjelang dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari
itu Jum'at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lubang pembuangan air.

Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata,
ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap sajadah. "Hai, Blis!", panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu. Iblis merasa terusik : "Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!", jawab Iblis ketus.


"Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci,Kalau kau mau ganggu, kau bias
diluar nanti!", Kiai mencoba mengusir.
"Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru". Kiai tercenung.
"Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu". "Dengan apa?"

"Dengan sajadah!"
"Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?"
"Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah.
Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan
tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!"

"Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang
baru,Blis?"
"Bukan itu saja Kiai..."
"Lalu?"
"Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan
menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah
yang lebar-lebar"
"Untuk apa?"
"Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap
kaum yang Kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya bisa ikut membentangkan sajadah".

Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya
membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil,
tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu
datang. Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya.


Keduanya masih melakukan sholat sunnah.
"Nah, lihat itu Kiai!", Iblis memulai dialog lagi.
"Yang mana?"
"Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang
berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka".

Iblis lenyap.
Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.
Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah.
Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya.
Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun
dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa.

Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang
lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat di beberapa masjid.
Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di
atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas.

Pemilik sajadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang
setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa.

Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai
orang lain.
"Astaghfirullahal adziiiim ", ujar sang Kiai pelan.

Surat Cinta dari manusia-manusia yang malamnya penuh cinta

Surat Cinta dari manusia-manusia yang malamnya penuh cinta


Kami tujukan kepada :
Insan yang tersia-sia malamnya

Assalamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh

Wahai orang-orang yang terpejam matanya,

Perkenankanlah kami, manusia-manusia malam menuliskan sebuah surat cinta kepadamu. Seperti halnya cinta kami pada waktu malam-malam yang kami rajut di sepertiga terakhir. Atau seperti cinta kami pada keagungan dan rahasianya yang penuh pesona. Kami tahu dirimu bersusah payah lepas tengah hari berharap intan dan mutiara dunia. Namun kami tak perlu bersusah payah, sebab malam-malam kami berhiaskan intan dan mutiara dari surga.

Wahai orang-orang yang terlelap,

Sungguh nikmat malam-malammu. Gelapnya yang pekat membuat matamu tak mampu melihat energi cahaya yang tersembunyi di baliknya. Sunyi senyapnya membuat dirimu hanyut tak menghiraukan seruan cinta. Dinginnya yang merasuk semakin membuat dirimu terlena,menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya. Aduhai kau sangat menikmatinya.

Wahai orang-orang yang terlena,

Ketahuilah, kami tidak seperti dirimu !! Yang setiap malam terpejam matanya, yang terlelap pulas tak terkira. Atau yang terlena oleh suasananya yang begitu menggoda. Kami tidak seperti dirimu !! Kami adalah para perindu kamar di surga. Tak pernahkah kau dengar Sang Insan Kamil, Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya di surga itu ada kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. Disediakan untuk mereka yang memberi makan orang-orang yang memerlukannya, menyebarkan salam serta mendirikan sholat pada saat manusia terlelap dalam tidur malam." Sudahkah kau dengar tadi ? Ya, sebuah kamar yang menakjubkan untuk kami dan orang-orang yang mendirikan sholat pada saat manusia-manusia yang lain tertutup mata dan hatinya.

Wahai orang-orang yang keluarganya hampa cinta,
Kau pasti pernah mendengar namaku disebut. Aku Abu Hurairah, Periwayat Hadist. Kerinduanku akan sepertiga malam adalah hal yang tak terperi. Penghujung malam adalah kenikmatanku terbesar. Tapi tahukah kau ? Kenikmatan itu tidak serta merta kukecap sendiri. Kubagi malam-malamku yang penuh syahdu itu menjadi tiga. Satu untukku, satu untuk istriku tercinta dan satu lagi untuk pelayan yang aku kasihi. Jika salah satu dari kami selesai mendirikan sholat, maka kami bersegera membangunkan yang lain untuk menikmati bagiannya. Subhanallah, tak tergerakkah dirimu ? Pedulikah kau pada keluargamu ? Adakah kebaikan yang kau inginkan dari mereka ? Sekedar untuk membangunkan orang-orang yang paling dekat denganmu, keluargamu ?

Lain lagi dengan aku, Nuruddin Mahmud Zanki. Sejarah mencatatku sebagai Sang Penakluk kesombongan pasukan salib. Suatu kali seorang ulama tersohor Ibnu Katsir mengomentari diriku, katanya, " Nuruddin itu kecanduan sholat malam, banyak berpuasa dan berjihad dengan akidah yang benar." Kemenangan demi kemenangan aku raih bersama pasukanku. Bahkan pasukan musuh itu terlibat dalam sebuah perbincangan seru. Kata mereka, " Nuruddin Mahmud Zanki menang bukan karena pasukannya yang banyak. Tetapi lebih karena dia mempunyai rahasia bersama Tuhan". Aku tersenyum, mereka memang benar. Kemenangan yang kuraih adalah karena do'a dan sholat-sholat malamku yang penuh kekhusyu'an.

Tahukah kau dengan orang yang selalu setia mendampingiku ? Dialah Istriku tercinta, Khotun binti Atabik. Dia adalah istri shalehah di mataku, terlebih di mata Alloh. Malam-malam kami adalah malam penuh kemesraan dalam bingkai Tuhan. Gemerisik dedaunan dan desahan angin seakan menjadi pernak-pernik kami saat mendung di mata kami jatuh berderai dalam sujud kami yang panjang.

Kuceritakan padamu suatu hari ada kejadian yang membuat belahan jiwaku itu tampak murung. Kutanyakan padanya apa gerangan yang membuatnya resah. Ya Alloh, ternyata dia tertidur, tidak bangun pada malam itu, sehingga kehilangan kesempatan untuk beribadah. Astaghfirulloh, aku menyesal telah membuat dia kecewa. Segera setelah peristiwa itu kubayar saja penyesalanku dengan mengangkat seorang pegawai khusus untuknya. Pegawai itu kuperintahkan untuk menabuh genderang agar kami terbangun di sepertiga malamnya.

Wahai orang-orang yang terbuai,
Kau pasti mengenalku dalam kisah pembebasan Al Aqso, rumah Allah yang diberkati. Akulah pengukir tinta emas itu, seorang Panglima Perang, Sholahuddin Al-Ayyubi. Orang-orang yang hidup di zamanku mengenalku tak lebih dari seorang Panglima yang selalu menjaga sholat berjama'ah. Kesenanganku adalah mendengarkan bacaan Alqur'an yang indah dan syahdu. Malam-malamku adalah saat yang paling kutunggu. Saat-saat dimana aku bercengkerama dengan Tuhanku. Sedangkan siang hariku adalah perjuangan-perjuangan nyata, pengejawantahan cintaku pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terlena,

Pernahkah kau mendengar kisah penaklukan Konstantinopel ? Akulah orang dibalik penaklukan itu, Sultan Muhammad Al Fatih. Aku sangat lihai dalam memimpin bala tentaraku. Namun tahukah kau bahwa sehari sebelum penaklukan itu, aku telah memerintahkan kepada pasukanku untuk berpuasa pada siang harinya. Dan saat malam tiba, kami laksanakan sholat malam dan munajat penuh harap akan pertolongan-Nya. Jika Alloh memberikan kematian kepada kami pada siang hari disaat kami berjuang, maka kesyahidan itulah harapan kami terbesar. Biarlah siang hari kami berada di ujung kematian, namun sebelum itu, di ujung malamnya Alloh temukan kami berada dalam kehidupan. Kehidupan dengan menghidupi malam kami.

Wahai orang-orang yang gelap mata dan hatinya,

Pernahkah kau dengar kisah Penduduk Basrah yang kekeringan ? Mereka sangat merindukan air yang keluar dari celah-celah awan. Sebab terik matahari terasa sangat menyengat, padang pasir pun semakin kering dan tandus. Suatu hari mereka sepakat untuk mengadakan Sholat Istisqo yang langsung dipimpin oleh seorang ulama di masa itu. Ada wajah-wajah besar yang turut serta di sana, Malik bin Dinar, Atho' As-Sulami, Tsabit Al-Bunani. Sholat dimulai, dua rakaat pun usai. Harapan terbesar mereka adalah hujan-hujan yang penuh berkah.

Namun waktu terus beranjak siang, matahari kian meninggi, tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Mendung tak datang, langit membisu, tetap cerah dan biru. Dalam hati mereka bertanya-tanya, adakah dosa-dosa yang kami lakukan sehingga air hujan itu tertahan di langit ? Padahal kami semua adalah orang-orang terbaik di negeri ini ?

Sholat demi sholat Istisqo didirikan, namun hujan tak kunjung datang. Hingga suatu malam, Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani terjaga di sebuah masjid. Saat malam itulah, aku, Maimun, seorang pelayan, berwajah kuyu, berkulit hitam dan berpakaian usang, datang ke masjid itu. Langkahku menuju mihrab, kuniatkan untuk sholat Istisqo sendirian, dua orang terpandang itu mengamati gerak gerikku.

Setelah sholat, dengan penuh kekhusyu'an kutengadahkan tanganku ke langit, seraya berdo'a :
"Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis ? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang ? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya."

Lalu apa gerangan yang terjadi ? Angin langsung datang bergemuruh dengan cepat, mendung tebal di atas langit. Langit seakan runtuh mendengar do'a seorang pelayan ini. Do'aku dikabulkan oleh Tuhan, hujan turun dengan derasnya, membasahi bumi yang tandus yang sudah lama merindukannya.

Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani pun terheran-heran dan kau pasti juga heran bukan ? Aku, seorang budak miskin harta, yang hitam pekat, mungkin lebih pekat dari malam-malam yang kulalui. Hanya manusia biasa, tapi aku menjadi sangat luar biasa karena doaku yang makbul dan malam-malam yang kupenuhi dengan tangisan dan taqarrub pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terpejam,
Penghujung malam adalah detik-detik termahal bagiku, Imam Nawawi. Suatu hari muridku menanyakan kepadaku, bagaimana aku bisa menciptakan berbagai karya yang banyak ? Kapan aku beristirahat, bagaimana aku mengatur tidurku ? Lalu kujelaskan padanya, "Jika aku mengantuk, maka aku hentikan sholatku dan aku bersandar pada buku-bukuku sejenak. Selang beberapa waktu jika telah segar kembali, aku lanjutkan ibadahku."
Aku tahu kau pasti berpikir bahwa hal ini sangat sulit dijangkau oleh akal sehatmu. Tapi lihatlah, aku telah melakukannya, dan sekarang kau bisa menikmati karya-karyaku.

Wahai orang-orang yang tergoda,
Begitu kuatkah syetan mengikat tengkuk lehermu saat kau tertidur pulas ? Ya, sangat kuat, tiga ikatan di tengkuk lehermu !! Dia lalu menepuk setiap ikatan itu sambil berkata, "Hai manusia, Engkau masih punya malam panjang, karena itu tidurlah !!".

Hei, Sadarlah, sadarlah, jangan kau dengarkan dia, itu tipu muslihatnya ! Syetan itu berbohong kepadamu. Maka bangunlah, bangkitlah, kerahkan kekuatanmu untuk menangkal godaannya. Sebutlah nama Alloh, maka akan lepas ikatan yang pertama. Kemudian, berwudhulah, maka akan lepas ikatan yang kedua. Dan yang terakhir, sholatlah, sholat seperti kami, maka akan lepaslah semua ikatan-ikatan itu.

Wahai orang-orang yang masih terlelap,
Masihkah kau menikmati malam-malammu dengan kepulasan ? Masihkah ? Adakah tergerak hatimu untuk bangkit, bersegera, mendekat kepada-Nya, bercengkerama dengan-Nya, memohon keampunan-Nya, meski hanya 2 rakaat ? Tidakkah kau tahu, bahwa Alloh turun ke langit bumi pada 1/3 malam yang pertama telah berlalu. Tidakkah kau tahu, bahwa Dia berkata, "Akulah Raja, Akulah Raja, siapa yang memohon kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Kuberi, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Ku ampuni. Dia terus berkata demikian, hingga fajar merekah.

Wahai orang-orang yang terbujuk rayu dunia,
Bagi kami, manusia-manusia malam, dunia ini sungguh tak ada artinya. Malamlah yang memberi kami kehidupan sesungguhnya. Sebab malam bagi kami adalah malam-malam yang penuh cinta, sarat makna. Masihkah kau terlelap ? Apakah kau menginginkan kehidupan sesungguhnya ? Maka ikutilah jejak kami, manusia-manusia malam. Kelak kau akan temukan cahaya di sana, di waktu sepertiga malam. Namun jika kau masih ingin terlelap, menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya, maka surat cinta kami ini sungguh tak berarti apa-apa bagimu.

Semoga Alloh mempertemukan kita di sana, di surga-Nya, mendapati dirimu dan diri kami dalam kamar-kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. Semoga...


Wassalamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh,


(Manusia-Manusia Malam)

Rabu, 22 Juni 2011

NABI MUHAMMAD saw di mata para Pakar dunia


Nabi Muhammad adalah sesosok yang begitu di puja oleh umat islam,sebagai manusia sempurna dengan membawa rahmat bagi alam, cerita tentang kehidupan nya ratusan tahun yang lalu masih menjadi topik yang hangat untuk di perbincangkan oleh para pakar di seluruh dunia,mari kita simak pendapat para pakar dunia di bawah ini : 



MAHATMA GANDHI (Komentar mengenai karakter Muhammad di YOUNG INDIA ):


Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia… Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang ) menyingkirkan segala halangan. Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung.


Sir George Bernard Shaw (The Genuine Islam,’ Vol. 1, No. 8, 1936.)


Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa – beberapa ratus tahun dari sekarang, Islam-lah agama tersebut.” Saya senantiasa menghormati agama Muhammad karena potensi yang dimilikinya. Ini adalah satu-satunya agama yang bagi saya memiliki kemampuan menyatukan dan merubah peradaban. Saya sudah mempelajari Muhammad sesosok pribadi agung yang jauh dari kesan seorang anti-kristus, dia harus dipanggil ’sang penyelamat kemanusiaan’ Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan sedemikian hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia:

Ramalanku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini. Dia adalah manusia teragung yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini. Dia membawa sebuah agama, mendirikan sebuah bangsa, meletakkan dasar-dasar moral, memulai sekian banyak gerakan pembaruan sosial dan politik, mendirikan sebuah masyarakat yang kuat dan dinamis untuk melaksanakan dan mewakili seluruh ajarannya, dan ia juga telah merevolusi pikiran serta perilaku manusia untuk seluruh masa yang akan datang.

Dia adalah Muhammad (SAW). Dia lahir di Arab tahun 570 masehi, memulai misi mengajarkan agama kebenaran, Islam (penyerahan diri pada Tuhan) pada usia 40 dan meninggalkan dunia ini pada usia 63. Sepanjang masa kenabiannya yang pendek (23 tahun) dia telah merubah Jazirah Arab dari paganisme dan pemuja makhluk menjadi para pemuja Tuhan yang Esa, dari peperangan dan perpecahan antar suku menjadi bangsa yang bersatu, dari kaum pemabuk dan pengacau menjadi kaum pemikir dan penyabar, dari kaum tak berhukum dan anarkis menjadi kaum yang teratur, dari kebobrokan kekeagungan moral. Sejarah manusia tidak pernah mengenal tranformasi sebuah masyarakat atau tempat sedahsyat ini �€” dan bayangkan ini terjadi dalam kurun waktu hanya sedikit di atas DUA DEKADE.”


MICHAEL H. HART (THE 100: A RANKING OF THE MOST INFLUENTIAL PERSONS IN HISTORY, New York, 1978)


Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular maupun agama. (hal. 33). Lamar tine, seorang sejarawan terkemuka menyatakan bahwa: Jika keagungan sebuah tujuan, kecilnya fasilitas yang diberikan untuk mencapai tujuan tersebut, serta menakjubkannya hasil yang dicapai menjadi tolok ukur kejeniusan seorang manusia; siapakah yang berani membandingkan tokoh hebat manapun dalam sejarah modern dengan Muhammad?


Tokoh-tokoh itu membangun pasukan, hukum dan kerajaan saja. Mereka hanyalah menciptakan kekuatan-kekuatan material yang hancur bahkan di depan mata mereka sendiri. Muhammad bergerak tidak hanya dengan tentara, hukum, kerajaan, rakyat dan dinasti, tapi jutaan manusia di dua per tiga wilayah dunia saat itu; lebih dari itu, ia telah merubah altar-altar pemujaan, sesembahan, agama, pikiran, kepercayaan serta jiwa… Kesabarannya dalam kemenangan dan ambisinya yang dipersembahkan untuk satu tujuan tanpa sama sekali berhasrat membangun kekuasaan, sembahyang-sembahya ngnya, dialognya dengan Tuhan, kematiannnya dan kemenangan-kemenang an (umatnya) setelah kematiannya; semuanya membawa keyakinan umatnya hingga ia memiliki kekuatan untuk mengembalikan sebuah dogma.


Dogma yang mengajarkan ketunggalan dan kegaiban (immateriality) Tuhan yang mengajarkan siapa sesungguhnya Tuhan. Dia singkirkan tuhan palsu dengan kekuatan dan mengenalkan tuhan yang sesungguhnya dengan kebijakan. Seorang filsuf yang juga seorang orator, apostle (hawariyyun, 12 orang pengikut Yesus-pen.), prajurit, ahli hukum, penakluk ide, pegembali dogma-dogma rasional dari sebuah ajaran tanpa pengidolaan, pendiri 20 kerajaan di bumi dan satu kerajaan spiritual, ialah Muhammad. Dari semua standar bagaimana kehebatan seorang manusia diukur, mungkin kita patut bertanya: adakah orang yang lebih agung dari dia?”


(Lamar tine, HISTOIRE DE LA TURQUIE, Paris, 1854, Vol. II, pp 276-277)


“Dunia telah menyaksikan banyak pribadi-pribadi agung. Namun, dari orang orang tersebut adalah orang yang sukses pada satu atau dua bidang saja misalnya agama atau militer. Hidup dan ajaran orang-orang ini seringkali terselimuti kabut waktu dan zaman. Begitu banyak spekulasi tentang waktu dan tempat lahir mereka, cara dan gaya hidup mereka, sifat dan detail ajaran mereka, serta tingkat dan ukuran kesuksesan mereka sehingga sulit bagi manusia untuk merekonstruksi ajaran dan hidup tokoh-tokoh ini.


Tidak demikian dengan orang ini. Muhammad (SAW) telah begitu tinggi menggapai dalam berbagai bidang pikir dan perilaku manusia dalam sebuah episode cemerlang sejarah manusia. Setiap detil dari kehidupan pribadi dan ucapan-ucapannya telah secara akurat didokumentasikan dan dijaga dengan teliti sampai saat ini. Keaslian ajarannya begitu terjaga, tidak saja oleh karena penelusuran yang dilakukan para pengikut setianya tapi juga oleh para penentangnya. Muhammad adalah seorang agamawan, reformis sosial, teladan moral, administrator massa, sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami yang penuh kasih dan seorang ayah yang penyayang – semua menjadi satu. Tiada lagi manusia dalam sejarah melebihi atau bahkan menyamainya dalam setiap aspek kehidupan tersebut – hanya dengan kepribadian seperti dialah keagungan seperti ini dapat diraih.”




K. S. RAMAKRISHNA RAO, Professor Philosophy dalam bookletnya,


“Muhammad, The Prophet of Islam” Kepribadian Muhammad, hhmm sangat sulit untuk menggambarkannya dengan tepat. Saya pun hanya bisa menangkap sekilas saja: betapa ia adalah lukisan yang indah. Anda bisa lihat Muhammad sang Nabi, Muhammad sang pejuang, Muhammad sang pengusaha, Muhammad sang negarawan, Muhammad sang orator ulung, Muhammad sang pembaharu, Muhammad sang pelindung anak yatim-piatu, Muhammad sang pelindung hamba sahaya, Muhammad sang pembela hak wanita, Muhammad sang hakim, Muhamad sang pemuka agama.


Dalam setiap perannya tadi, ia adalah seorang pahlawan. Saat ini, 14 abad kemudian, kehidupan dan ajaran Muhammad tetap selamat, tiada yang hilang atau berubah sedikit pun. Ajaran yang menawarkan secercah harapan abadi tentang obat atas segala penyakit kemanusiaan yang ada dan telah ada sejak masa hidupnya. Ini bukanlah klaim seorang pengikutnya tapi juga sebuah simpulan tak terelakkan dari sebuah analisis sejarah yang kritis dan tidak bias.


PROF. (SNOUCK) HURGRONJE:


Liga bangsa-bangsa yang didirikan Nabi umat Islam telah meletakkan dasar-dasar persatuan internasional dan persaudaraan manusia di atas pondasi yang universal yang menerangi bagi bangsa lain. Buktinya, sampai saat ini tiada satu bangsa pun di dunia yang mampu menyamai Islam dalam capaiannya mewujudkan ide persatuan bangsa-bangsa. Dunia telah banyak mengenal konsep ketuhanan, telah banyak individu yang hidup dan misinya lenyap menjadi legenda. Sejarah menunjukkan tiada satu pun legenda ini yang menyamai bahkan sebagian dari apa yang Muhammad capai.


Seluruh jiwa raganya ia curahkan untuk satu tujuan: menyatukan manusia dalam pengabdian kapada Tuhan dalam aturan-aturan ketinggian moral. Muhammad atau pengikutnya tidak pernah dalam sejarah menyatakan bahwa ia adalah putra Tuhan atau reinkarnasi Tuhan atau seorang jelmaan Tuhan dia selalu sejak dahulu sampai saat ini menganggap dirinya dan dianggap oleh pengikutnya hanyalah sebagai seorang pesuruh yang dipilih Tuhan.




THOMAS CARLYLE in his HEROES AND HEROWORSHIP


(Betapa menakjubkan) seorang manusia sendirian dapat mengubah suku-suku yang saling berperang dan kaum nomaden menjadi sebuah bangsa yang paling maju dan paling berperadaban hanya dalam waktu kurang dari dua decade. “Kebohongan yang dipropagandakan kaum Barat yang diselimutkan kepada orang ini (Muhammad) hanyalah mempermalukan diri kita sendiri. S esosok jiwa besar yang tenang, seorang yang mau tidak mau harus dijunjung tinggi. Dia diciptakan untuk menerangi dunia, begitulah perintah Sang Pencipta Dunia.


EDWARD GIBBON and SIMON OCKLEY speaking on the profession of ISLAM write:


Saya percaya bahwa Tuhan adalah tunggal dan Muhammad adalah pesuruh-Nya adalah pengakuan kebenaran Islam yang simpel dan seragam. Tuhan tidak pernah dihinakan dengan pujaan-pujaan kemakhlukan; penghormatan terhadap Sang Nabi tidak pernah berubah menjadi pengkultusan berlebihan; dan prinsip-prinsip hidupnya telah memberinya penghormatan dari pengikutnya dalam batas-batas akal dan agama


(HISTORY OF THE SARACEN EMPIRES, London, 1870, p. 54).


Muhammad tidak lebih dari seorang manusia biasa. Tapi ia adalah manusia dengan tugas mulia untuk menyatukan manusia dalam pengabdian terhadap satu dan hanya satu Tuhan serta untuk mengajarkan hidup yang jujur dan lurus sesuai perintah Tuhan. Dia selalu menggambarkan dirinya sebagai hamba dan pesuruh Tuhan dan demikianlah juga setiap tindakannya.


SAROJINI NAIDU, penyair terkenal India (S. Naidu, IDEALS OF ISLAM, vide Speeches & Writings, Madras, 1918, p. 169):


Inilah agama pertama yang mengajarkan dan mempraktekkan demokrasi; di setiap masjid, ketika adzan dikumandangkan dan jemaah telah berkumpul, demokrasi dalam Islam terwujud lima kali sehari ketika seorang hamba dan seorang raja berlutut berdampingan dan mengakui: Allah Maha Besar… Saya terpukau lagi dan lagi oleh kebersamaan Islam yang secara naluriah membuat manusia menjadi bersaudara.


DIWAN CHAND SHARMA:


Muhammad adalah sosok penuh kebaikan, pengaruhnya dirasakkan dan tak pernah dilupakan orang-orang terdekatnya. (D.C. Sharma, THE PROPHETS OF THE EAST, Calcutta, 1935, pp. 12)


James A. Michener, “Islam: The Misunderstood Religion,” in READER’S DIGEST (American edition), May 1955, pp. 68-70.


Muhammad, seorang inspirator yang mendirikan Islam, dilahirkan pada tahun 570 masehi dalam masyarakat Arab penyembah berhala. Yatim semenjak kecil dia secara khusus memberikan perhatian kepada fakir miskin, yatim piatu dan janda, serta hamba sahaya dan kaum lemah. Di usia 20 tahun, dia sudah menjadi seorang pengusaha yang sukses, dan menjadi pengelola bisnis seorang janda kaya. Ketika mencapai usia 25, sang majikan melamarnya. Meski usia perempuan tersebut 15 tahun lebih tua Muhammad menikahinya dan tetap setia kepadanya sepanjang hayat sang istri.


Seperti halnya para nabi lain, Muhammad memulai tugas kenabiannya dengan sembunyi2 dan ragu2 karena menyadari kelemahannya. Tapi Baca adalah perintah yang diperolehnya, -dan meskipun sampai saat ini diyakini bahwa Muhammad tidak bisa membaca dan menulis dan keluarlah dari mulutnya satu kalimat yang akan segera mengubah dunia: Tiada tuhan selain Allah. “Dalam setiap hal, Muhammad adalah seorang yang mengedepankan akal. Ketika putranya, Ibrahim, meninggal disertai gerhana dan menimbulkan anggapan ummatnya bahwa hal tersebut adalah wujud rasa belasungkawa Tuhan kepadanya, Muhammad berkata:


Gerhana adalah sebuah kejadian alam biasa, adalah suatu kebodohan mengkaitkannya dengan kematian atau kelahiran seorang manusia. “Sesaat setelah ia meninggal, sebagian pengikutnya hendak memujanya sebagaimana Tuhan dipuja, akan tetapi penerus kepemimpinannya (Abu Bakar-pen.) menepis keinginan ummatnya itu dengan salah satu pidato relijius terindah sepanjang masa: Jika ada diatara kalian yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa ia telah meninggal. Tapi jika Tuhan-lah yang hendak kalian sembah, ketahuilah bahwa Ia hidup selamanya. (Ayat terkait: Q.S. Al Imran, 144 – pen.)



W. Montgomery Watt, MOHAMMAD AT MECCA , Oxford , 1953, p. 52.


Kesiapannya menempuh tantangan atas keyakinannya, ketinggian moral para pengikutnya, serta pencapaiannya yang luar biasa semuanya menunjukkan integritasnya. Mengira Muhammad sebagai seorang penipu hanyalah memberikan masalah dan bukan jawaban. Lebih dari itu, tiada figur hebat yang digambarkan begitu buruk di Barat selain Muhammad.



Annie Besant, THE LIFE AND TEACHINGS OF MUHAMMAD, Madras , 1932, p. 4.


“Sangat mustahil bagi seseorang yang memperlajari karakter Nabi Bangsa Arab, yang mengetahui bagaimana ajarannya dan bagaimana hidupnya untuk merasakan selain hormat terhadap beliau, salah satu utusan-Nya. Dan meskipun dalam semua yang saya gambarkan banyak hal-hal yang terasa biasa, namun setiap kali saya membaca ulang kisah-kisahnya, setiap kali pula saya merasakan kekaguman dan penghormatan kepada sang Guru Bangsa Arab tersebut.”


Bosworth Smith, MOHAMMAD AND MOHAMMADANISM, London , 1874, p. 92.


Dia adalah perpaduan Caesar dan Paus; tapi dia adalah sang Paus tanpa pretensinya dan seorang caesar tanpa Legionnaire- nya: tanpa tentara, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pengahasilan tetap; jika ada seorang manusia yang pantas untuk berkata bahwa dia-lah wakil Tuhan penguasa dunia, Muhammad lah orang itu, karena dia memiliki kekuatan meski ia tak memiliki segala instrument atau penyokongnya.


John William Draper, M.D., L.L.D., A History of the Intellectual Development of Europe, London 1875, Vol.1, pp.329-330


Empat tahun setelah kematian Justinian, pada 569 AD, telah lahir di Mekkah Arabia seorang manusia yang sangat besar pengaruhnya terhadap ummat manusia


John Austin, “Muhammad the Prophet of Allah,” in T.P.. ’s and Cassel ’s Weekly for 24th September 1927 .


Dalam kurun waktu hanya sedikit lebih dari satu tahun, ia telah menjadi pemimpin di Madinah. Kedua tangannya memegang sebuah tuas yang siap mengguncang dunia.




Professor Jules Masserman


Pasteur dan Salk adalah pemimpin dalam satu hal (intelektualitas- pen). Gandhi dan Konfusius pada hal lain serta Alexander, Caesar dan Hitler mungkin pemimpin pada kategori kedua dan ketiga (reliji dan militer pen.). Jesus dan Buddha mungkin hanya pada kategori kedua. Mungkin pemimpin terbesar sepanjang masa adalah Muhammad, yang sukses pada ketiga kategori tersebut. Dalam skala yang lebih kecil Musa melakukan hal yang sama


Terbukti, bukan hanya umat Islam saja yg menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW tidak hanya sebagai Messenger of God (Allah SWT).. dan sebagai panutan/suri tauladan kepada seluruh umat manusia..tapi umat non-muslim bahkan banyak tokoh dunia mengakui akan kualitas kepemimpinannya baik agama maupun dunia…tak lekang oleh zaman…pesannya bersifat universal melampaui suku, bangsa & negara dan umatnya semakin hari semakin bertambah.


sumber http://nabimuhammad.info/