Kamis, 23 Februari 2012

Mungkin kita sama-sama telah familiar sebuah ungkapan Tak kenal maka tak sayang, maka apabila tidak kenal maka menjadi sebuah jalan dari ketidak sayangan kita pada yang tidak kita kenali tersebut. Maka apabila kita sebagai seorang muslim tidak mengenal Rasullah SAW maka adalah sebuah bahaya yang besar karena tanpa mencintai Rasullah SAW maka akan jatuh kepada sebuah kehinaan di akhirat kelak. Imam Al Qurtubi dalam menafsirkan Surah Al kahfi ayat 18 menafsirkan bahwa dimana beliau menyorot ada seekor anjing, dimana anjing tersebut merupakan sahabat dari ashabul kahfi, kata Imam Al Qurtubi: maka coba kita bayangkan seekor anjing saja yang membersamai orang-orang yang mulia dan setia kepada mendapatkankan kemulian yang sama besar pula, namun bagaimana seorang insan yang kemudian dia membersamai orang-orang yang juga mulia didalam cinta dan ketaatan juga kesetiaan kepada mereka, hendaklah ini menjadi perhatian bagi orang yang masih merasa teledor dalam ketaatanya kepada Allah bagi yang sering merasa lalai dalam mengingat Allah, bagi yang sering kemudian didalam kehidupannya terkadang terjerembat didalam kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah. Sungguh kita ini semua adalah manusia yang tidak pernah lepas dari kesalahan kesalahan.
Maka mencintai Rasulullah adalah sebuah kemuliaan adalah sebuah kebersamaan yang sangat agung, sebagaimana sebuah hadis yang  di tahridz imam muslim dibawakan oleh perawi teratas Anas bin Malik ra, datang seorang kepada Rasullah Saw, mereka bertanya kepada Rasulullah wahai rasul kapan datang hari kiamat? Namun rasul menjawab apa yang telah kau persiapkan untuk menhadapinya? Orang itu menjawab maka sesungguhnya aku ini aku mencintai Allah dan rasulnya sebagai bekalku untuk menghadapi hari kiamat dan Rasulullah SAW menyahut kepadanya dan engkau akan membersamai orang yang kau cintai.
Maka Anas sangat berbahagia dengan hadist tersebut dan dia mengatakan tidak akan dan demi ALLah bila ada orang yang menukarnya dengan bumi dan seisinya maka tidak akan aku berikan, sebab kegembiraanku datang dari kata-kata Rasulullah mengatakan engkau akan membersamai orang yang engkau cintai, aku ini apabila melihat kepada ibadahku salatku, ketaatanku, puasaku, zakatku sedekahku hajiku umrahku juhadku tilawah qur’anku dan semua kebaikan yang pernah kulakukan maka sungguh demi Allah kebaikanku itu tidak ada seujung kuku dibandingkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW Abu bakar dan Umar bin Khatab ra, tetapi yang keadaanku dalam amal sholeh samasekali tidak mencapai seujung kuku mereka itu tetapi dalam hati aku mencintai mereka, maka demi Allah aku berharap meskipun amalku tidak sebaik Rasulullah SAW Abu bakar dan Umar bin Khattab tetapi Allah SWT kelak didalam surga akan membersamakan aku dengan mereka karena aku mencintai mereka.
Maka mencintai Rasulullah adalah sebuah hajat paling agung bagi kita sebab kita sadar sebagai hambanya sebab kita jauh dalam mengamalkan kebajikan yang beliau tuntunkan, kita jauh dari terhiasi akhlak mulia sebagaimana belaiu tampilkan kita jauh dari apa-apa yang belaiu jalani dalam kehidupan.
Maka bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah, suatu saat belau dilempar batu dan kena di pelipis dan darah mengucur deras dan beliau tangkupkan kedua tangannya untuk menampung darah itu, kenapa beliau menangkupkan tangannya karena  supaya darahnya tidak sampai jatuh kebumi, sebab andai sampai darah itu menetes dibumi sebagaimana disampaikan oleh jibril: Ya Rasulullah andai darah itu sampai menetes dibumi maka Tuhanmu akan murka pada kaum yang membuat kau meneteskan darah itu dan akan mengazab mereka. Jadi Rasulullah menangkupkan tangannya menahan darahnya agar tidak jatuh kebumi itu bukan karena sakit, ia mungkin beliau kesakitan dan sangat pedih sekali namun yang membuatnya menangkupkan tangannya itu karena ia tidak ingin kaumnya mendapatkan azab karena darahnya yang suci nan mulia itu menetes ke bumi maka beliau tampung jangan sampai kemudian jatuh, kalau sampai jatuh kebumi menetes ditanah Allah murka dan kaumnya sampai di azab, atau dalam kisah lain bagaimana Rasulullah di lempari batu, kotoran diteriaki gila, dikejar-kejar tersaruk-saruk hingga beliau menghindarkan diri dari orang-orang yang tidak berperikemanusiaan itu sambil mengatakan. ya Rabbi ampuni mereka, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan, Ya Rabbi ampuni mereka, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Bagaimana kita tidak mencintai seseorang yang di caci dihina, dikatakan gila, tidak waras dikatakan penyair dikatakan dukun dikatakan ahli sihir yang memisahkan manusia, yang ketika dicaci maki membalas pujian, ketika di sakiti membalas punjungan, maka bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah ketika para sahabat mengeluhkan kelaparan hingga mengatakan sampai mereka mengganjal perutnya dengan batu namun ternyata Rasulullah SAW telah mengganjal perutnya dengan dua buah batu atau dalam perang uhud beliau dihantam dengan cakram besi hingga masuk kedalam pipi beliau, semua itu karena beliau sayang kepada kita, memperjuangkan agama ini hingga sampai kepada kita.
Seharusnya sangat muda mencintai pribadi yang sangat mempesona seperti Rasulullah SAW, bagaimana tidak ketika dalam keseharian kita ada seseorang yang membantu kita atau oranr yang baik kepada kita maka kitapun pasti membalas kebaikannya bahkan sangat mencintainya, apalagi kepada Rasulullah lewat pengorbanannya lewat perhatiannya lewat kasih sayangnya kepada kita sebagai umatnya.
Tetapi kondisi saat ini umat islam kita sendiri terkadang lebih mengenal artis idola kita ketimbang Rasulullah, lebih mencintai idola kita daripada Rasulullah, dan bahkan bila mencermati kondisi saat ini anak muda yang sedang demam korea bahkan hampir setiap saat pikirannya tentang hal itu bahkan bicaranya selalu itu hingga pernak-perniknya serba idolanya, betapa besar cintanya kepada idolanya yang berteriak-teriak hingga menjerit-jerit ketika melihat idolanya, kembali ke hadist di atas maukan kita dibersamakan diakhirat kelak dengan mereka, Na’udzubillah min dzalik.
Semoga hadist tersebut dapat mengingatkan kita terutama kepada saya sendiri untuk senantiasa memperbaiki marhalah cinta kita, berusaha mengenal kembali sosok uswah yang Allah SWT ciptakan begitu sangat mempesona, agar kita mengenal dengan baik yang menjadi jalan kita untuk mencintainya, sehingga amalan kita yang sangat-sangat tidak seberapa didunia ini namun mendapat tempat yang mulia karena cinta kita kepada orang-orang yang mulia,.
Wallahu’alam bi showab,..