gak FOKUS, gak keren...
Pembinaan Rohani Mahasiswa Islam, sebuah agenda yang diadakan oleh UKM Rohis Ar-Rahman Universitas Jambi. Alhamdulillah FOKUS-KSEI FE UNJA dapat berkontibusi penuh pada agenda yang dijadwalkan untuk menyambut seluruh mahasiswa baru muslim Universitas Jambi. PROMIS sebutan untuk acara ini terlaksana pada tgl 9 & 10 september 2012 di Balairung Universitas Jambi.
Dalam acara besar yang setiap tahunnya di adakan oleh salah satu UKM terbersar ini juga
Selasa, 11 September 2012
Rabu, 05 September 2012
MADINAH 2012
Salam luar biasa buat adik-adik mahasiswa fakultas ekonomi 2012 yang telah memilih untuk mengikuti sebuah agenda rutin yang dilaksanakan oleh Forum Kreativitas Mahasiswa Muslim Fakultas Ekonomi Universitas Jambi atau yang lebih akrab disebut dengan FOKUS FE UNJA.
MADINAH itu sendiri adalah kepanjangan dari Menciptakan Akhlak Mandiri dan Amanah. Acara ini adalah salah satu bentuk sambutan untuk mahasiswa baru dan mendapat apresiasi langsung dari pihak dekanat. Alhamdulillah untuk MADINAH 2012 dapat dibuka secara resmi oleh Pembantu Dekan III Fakultas Ekonomi Universitas Jambi, Bapak Dr. Haryadi, SE, M.MS pada 13 Agustus 2012 bertempat di Aula Rektorat Lt. 3 Universitas Jambi.
Acara dimulai dengan pembacaan Basmallah dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh salah satu mahasiswa baru fakultas ekonomi. Setelah Usai pembukaan, ada games yang diisi langsung oleh salah satu instutur yang sengaja didatangkan oleh panitia guna membangkitkan semangat-semangat mahasiswa baru fakultas ekonomi 2012.
Pada hari kedua, ada sebuah acara Baksos kepada cleaning service yang ada di fakultas ekonomi. Ini merupakan salah satu kepedulian mahasiswa baru dan panitia kepada mereka yang selalu menjaga fakultas ekonomi tetap bersih untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1433 H. Acara sosial itu dilakukan setelah kuliah Agama Islam langsung oleh salah satu dosen di Fakultas Ekonomi yang selalu respect dengan acara FOKUS yaitu Bapak Ridwan, S.Ag, M.Ei.
Acara yang lebih kurang dihadiri 100 mahasiswa baru dari 500 mahasiswa baru yang ada di Yellow Faculty ini alhamdulillah dapat berjalan dengan lancar. InsyaAllah akan melahirkan mahasiswa-mahasiswa yang luar biasa.
Alumni MADINAH 2012.. Sukses ya..
Minggu, 18 Maret 2012
Kenapa Harus Mentoring ?
tulisan ini ditujukan untuk seluruh mahasiswa,, yang masih mempertanyakan kenapa harus mentoring ?? apa sih itu mentoring dan yang lebih penting apa itu manfaatnya.. atau bisa juga tulisan ini untuk para mentor yang masih mempertanyakan kenapa saya menjadi mentor ? apa sih urgensinya. dan bagaimana mentoring mampu menjadi bagian dari membangun peradaban. !
kenapa harus mentoring ?
Karena mentoring sebenarnya adalah proses untuk “akselerasi kedewasaan”. Kedewasaan ini, sangatlah luas, bisa jadi, kedewasaan dalam memahami Islam,kedewasaan dalam berilmu sesuai pilihan kompetensinya, kedewasaan dalam mensikapi masalah, kedewasaan dalam memilih keputusan, bahkan kedewasaan dalam bergaul- mengenal karakter manusia.
Kedewasaan, Kenapa ? Kenapa Bisa ? Dan Apakah Harus Dengan Mentoring ?
Ya. Mentoring adalah sebuah grup diskusi terfokus, yang didalamnya terdapat interaksi- relasi antar insan, ada aspek manusiawi, serta hubungan interpersonal. Bisa jadi seseorang menjadi dewasa, tanpa mentoring, karena aspek pembentuk kedewasaan memang banyak, bisa jadi dia anak sulung, sebatang kara, dididik orang tua, atau memang sudah dilepas sedari kecil. Mentoring adalah proses “percepatan kedewasaan”, karena dengan mentoring, maka kita akan memperbesar “kapasitas berkomunitas” kita, memahami bahwa ternyata, karakter manusia itu beragam, menangani konflik komunikasi, hingga mampu bekerjasama walaupun terdapat perbedaan prinsip di satu sisi.
Lalu, Kenapa Harus Mentoring Yang Isinya Materi Melulu ?
Materi ? Ya, terkadang, mentor memang tidak mampu menerjemahkan “materi” mati menjadi “hidup”. Mentor harus paham, bahwa “mempelajari” dan “membaca” sebuah materi adalah satu masalah, sedangkan “membumikan” dan “mengkomunikasikan” materi kepada adik mentor, adalah masalah lain yang berbeda, jangan disamakan. Mentoring mengandung 3 aspek, yaitu kognitif ( materi keilmuan, knowledge. Bisa jadi rasmul bayan yang kita dapat dulu saat pertama kali liqo), afektif ( sikap, bersikap saat menyampaikan, raut muka, bahasa tubuh, mimik wajah, ) , dan psikomotorik ( bisa jadi saat rihlah, olahraga, intonasi). Psikologi dan suasana mentoring akan sangat mempengaruhi adik mentor.
Mentoring, Apa Hubungannya Dengan Kesuksesan Saya ?
Apakah Mentoring Harus Bermateri Agama Islam ?
Apakah Mentoring Harus Bermateri Agama Islam ?
Tahukah kamu, bahwa orang- orang yang mampu mengubah zaman, pada masa mudanya, adalah orang- orang yang membentuk kelompok diskusi tersegmen ? Tahukah kamu, bahwa mentoring dapat mempercepat pemahaman kita akan sebuah disiplin ilmu ? Dan,bukan hanya Islam.Tidak percaya ? Ini beberapa contohnya :
HOS Cokroaminoto punya 3 binaan, yaitu Sukarno ( Presiden1 RI), Semaun ( Pemimpin PKI Madiun), dan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo ( Pemimpin DI TII/ NII). Nah, semua jadi “tokoh” kan ? Walaupun akhirnya jadi berseberangan, itu, mungkin karena mereka pada ngebandel,mentoringnya gak selesai kali ya ?…
Jesse Jackson, senator negro pertama AS, yang Yahudi. Salah satu binaannya adalah Lewis “ Scooter” Libby ( Staf DEPLU AS), dan salah satu binaan dari mentoringnya Yahudi dari Libby ini, sekarang menjabat sebagai Presiden Bank Dunia, Paul Wolfowitz ( Pasti tahu dia kan ?)
Badiuzzaman Said Nursi, pemimpin Harokah Islamiyah dari Turki, penentang sekulerisme Kemal Pasha, dengan jamaahnya, Jamaah Nur, dan risalahnya, Risalah Nuriyah, punya kader yang masih dalam mentoringnya langsung, yaitu Dr. Necmetting Erbakan, dengan Partai Refah-nya, mantan PM Turki yang akhirnya terjungkal oleh militer, digantikan oleh Tanshu Ciller, dan hingga akhir hayatnya, dilarang terjun ke politik. Namun, Erbakan ini punya 11 binaan yang dipersiapkan untuk terjun ke politik praktis, dan 2 diantaranya adalah Abdullah Gul ( Presiden Turki sekarang) dan Recep Thayyip Erdogan ( PM Turki sekarang), yang mendapatkan amanah kepemimpinan dengan partai baru, Partai Keadilan dan Persatuan.
Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, Abdul Latief, dan Fadel Muhammad, adalah kader Golkar, yang sengaja dibentuk semenjak masih di bangku kuliah ITB untuk mengendalikan sektor riil Indonesia, dengan suatu saat nanti mengendalikan asosiasi dagangnya, yaitu KADIN. Mereka terkenal dengan sebutan “Grup Gelapnyawang”, murobinya, pasti semua kenal, Ginanjar Kartasasmita, Ketua DPD RI sekarang.
Tahu teman satu mentoring-nya Einstein ? Ya, Schrodinger! Dan tahu nama komunitas diskusinya ? Ya, The Royal Society, yang sudah ada semenjak Sir Isaac Newton hingga Stephen Hawking sekarang.
Tahu Dawam Rahardjo ? Semenjak mudanya, dia punya halaqoh sendiri, dengan teman- temannya yaitu Ahmad Wahib ( Alm) dan Mukti Ali. Ketiganya, gencar hingga sekarang mengkampanyekan “pembaharuan Islam”
Tahu Dawam Rahardjo ? Semenjak mudanya, dia punya halaqoh sendiri, dengan teman- temannya yaitu Ahmad Wahib ( Alm) dan Mukti Ali. Ketiganya, gencar hingga sekarang mengkampanyekan “pembaharuan Islam”
Jadi Kenapa Mentoring ? Saya Butuh Jawaban Logis- Rasional- Kuantitatif !
Baik, itu pertanyaan favorit saya, saya akan berikan jawaban :
Karena dengan mentoring, maka kamu akan mengalami Akselerasi/ Percepatan Kedewasaan.
Baik, itu pertanyaan favorit saya, saya akan berikan jawaban :
Karena dengan mentoring, maka kamu akan mengalami Akselerasi/ Percepatan Kedewasaan.
Jawaban Yang Tidak Logis, Apa Maksudnya ? Kedewasaan Apa Konkretnya ?
Konkretnya ? Baik, saya kasih contoh tersegmen :
Kedewasaan Ilmu
Jika ingin mendapatkan akselerasi kedewasaan dalam memahami dan menerapkan ilmu kamu di kampus, kamu harus ngementor dengan dosennya, di luar jam kuliah. Bikin kelompok kecil dengan 1 dosen sebagai mentor di rumahnya,jangan nunggu TA, kelamaan, keburu lulus ! Kenapa ? Karena ruangan kuliah terlalu sempit untuk mengetahui aspek teknis- taktis dari keilmuan kita. Jika memang benar- benar mau memiliki kemampuan berpikir strategis ala anak S1 dan bergerak taktis- teknis ala anak D3, maka, ajak seorang dosen untuk mentoring, curi semua ilmunya dan kamu akan mengalami akselerasi ilmu yang jauh berlipat, kamu bisa punya kemampuan setara doctor atau peneliti sebelum berusia 25 tahun! Luar biasa bukan mentoring itu ?
Konkretnya ? Baik, saya kasih contoh tersegmen :
Kedewasaan Ilmu
Jika ingin mendapatkan akselerasi kedewasaan dalam memahami dan menerapkan ilmu kamu di kampus, kamu harus ngementor dengan dosennya, di luar jam kuliah. Bikin kelompok kecil dengan 1 dosen sebagai mentor di rumahnya,jangan nunggu TA, kelamaan, keburu lulus ! Kenapa ? Karena ruangan kuliah terlalu sempit untuk mengetahui aspek teknis- taktis dari keilmuan kita. Jika memang benar- benar mau memiliki kemampuan berpikir strategis ala anak S1 dan bergerak taktis- teknis ala anak D3, maka, ajak seorang dosen untuk mentoring, curi semua ilmunya dan kamu akan mengalami akselerasi ilmu yang jauh berlipat, kamu bisa punya kemampuan setara doctor atau peneliti sebelum berusia 25 tahun! Luar biasa bukan mentoring itu ?
Kedewasaan Bisnis
Maksudnya ? Ya, biasanya, orang punya ide luar biasa untuk terjun ke sektor riil, namun bingung mulai dari mana, tidak ada modal, tidak ada jaringan, dll. Nah, dengan mentoring bisnis ini, kamu bisa mendapatkan ilmu luar biasa, bahwa ternyata, bisnis besar bisa dimulai dengan tanpa modal! Bahwa jaringan itu bukan hal yang sulit! Dan, kamu bisa mendirikan perusahaan berbasis kompetensi kuliah kamu, seperti halnya Steve Jobs, atau Michael Dell, sebelum berusia 25 tahun ! Nah, luar biasa bukan efek dari mentoring itu ?
Maksudnya ? Ya, biasanya, orang punya ide luar biasa untuk terjun ke sektor riil, namun bingung mulai dari mana, tidak ada modal, tidak ada jaringan, dll. Nah, dengan mentoring bisnis ini, kamu bisa mendapatkan ilmu luar biasa, bahwa ternyata, bisnis besar bisa dimulai dengan tanpa modal! Bahwa jaringan itu bukan hal yang sulit! Dan, kamu bisa mendirikan perusahaan berbasis kompetensi kuliah kamu, seperti halnya Steve Jobs, atau Michael Dell, sebelum berusia 25 tahun ! Nah, luar biasa bukan efek dari mentoring itu ?
Kedewasaan Psikologis
Maksudnya, apa lagi ? Hm, menjadi jenius bukan berarti terus jadi asosial loh. Jarang bergaul dan susah berinteraksi, seperti Steve Nash di Film A Beautifil Mind, sampai kena Skizofrenia segala ! Sudahlah, cobalah untuk bisa paham bahwa karakter manusia itu beragam, ada yang sensitive, agresif, ekspansif, bahkan arogan segala! Tahu kan, biasanya orang asosial punya kecenderungan bunuh diri tinggi, bahkan suka gagal dalam membangun karir dan relasi. So, mau cepet dewasa dalam menyikapi permasalahan hidup ? Yuk, mentoring.
Maksudnya, apa lagi ? Hm, menjadi jenius bukan berarti terus jadi asosial loh. Jarang bergaul dan susah berinteraksi, seperti Steve Nash di Film A Beautifil Mind, sampai kena Skizofrenia segala ! Sudahlah, cobalah untuk bisa paham bahwa karakter manusia itu beragam, ada yang sensitive, agresif, ekspansif, bahkan arogan segala! Tahu kan, biasanya orang asosial punya kecenderungan bunuh diri tinggi, bahkan suka gagal dalam membangun karir dan relasi. So, mau cepet dewasa dalam menyikapi permasalahan hidup ? Yuk, mentoring.
Kedewasaan BerIslam
Ah, kamu pasti tidak mau disebut fanatik kan ? Fanatisme berlebihan terjadi karena dogmatis yang tanpa ada diskusi dan interpretasi. Islam tidak seperti itu, kita diberikan kesempatan untuk bertanya seluas dan sedalam mungkin, kita bahkan ditantang untuk membuktikan kebenaran Islam dalam Al Quran, dan percayakah kamu, Malaikat saja bertanya ! Mempertanyakan kepemimpinan manusia di bumi ? Dan, mereka tidak disebut Allah dengan kurang ajar loh. So, ,mau menjadikan Islam sebagai sebuah gaya hidup ? Setelah kamu jadi peneliti, pengusaha, hingga dosen, kamu akan kehilangan ruh dan karakter kuat manakala tidak punya prinsip yang kuat, dan saya yakin, Islam adalah prinsip hidup yang paling nyaman dan menyenangkan buat manusia, mau mentoring Bos ? Yuuuk……
Ah, kamu pasti tidak mau disebut fanatik kan ? Fanatisme berlebihan terjadi karena dogmatis yang tanpa ada diskusi dan interpretasi. Islam tidak seperti itu, kita diberikan kesempatan untuk bertanya seluas dan sedalam mungkin, kita bahkan ditantang untuk membuktikan kebenaran Islam dalam Al Quran, dan percayakah kamu, Malaikat saja bertanya ! Mempertanyakan kepemimpinan manusia di bumi ? Dan, mereka tidak disebut Allah dengan kurang ajar loh. So, ,mau menjadikan Islam sebagai sebuah gaya hidup ? Setelah kamu jadi peneliti, pengusaha, hingga dosen, kamu akan kehilangan ruh dan karakter kuat manakala tidak punya prinsip yang kuat, dan saya yakin, Islam adalah prinsip hidup yang paling nyaman dan menyenangkan buat manusia, mau mentoring Bos ? Yuuuk……
Intinya, dengan mentoring, kamu bakalan lebih cepat mengalami kedewasaan, mengenali potensi kemanusiaan kamu, hingga menata hidup kamu lebih baik, bukan Cuma buat kamu sendiri, tapi juga buat lingkungan sekitar kamu…Asyik kan ?
Nah, contoh- contoh argumen diatas, apakah bisa dipakai ? Sekedar saran ringan saja
Rabu, 14 Maret 2012
Melingkar Adalah Menyulam Cinta, Melingkar Adalah Kita…
Di sini kita pernah bertemu
Iman itu api, cintalah panasnya.
Iman itu angin, cintalah badainya.
Iman itu salju, cintalah dinginnya.
Iman itu sungai, cintalah arusnya.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18205/melingkar-adalah-menyulam-cinta-melingkar-adalah-kita/#ixzz1p8zDjMMg
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menjulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria
Ketika kau menjulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria
(Brothers: Untukmu Teman)
Lagu tersebut adalah lagu lama yang tiba-tiba menjadi ingin sekali bagiku, beberapa waktu lalu, untuk sering melantunkannya. Bahkan, sampai suatu ketika ada seorang ikhwah berkata “itu kan lagu jadul, ngapain masih engkau nyanyikan”, dan tetapi aku tetap tak mempedulikannya. Ya karena lagu ini mengingatkanku pada satu hal, atau tepatnya tiga hal. Tentang cinta, iman, dan ukhuwah. Dan sahabat, malam ini, ingin sekali aku berbagi denganmu. Berbicara tentang tiga hal itu, cinta, iman dan ukhuwah. Tiga hal yang saling terkait, yang saling membutuhkan. Dan tiga hal itulah yang membuat generasi terbaik , para salafushalih mampu menuju peradaban tertinggi.
Mari kita bicarakan mulai yang pertama, tentang cinta sejati, yang katanya orang-orang indah, dan memang benar cinta sejati itu indah, seperti cintanya Muhammad pada ummatnya, yang sangat mengharukan. Yang ketika itu, sang penyair bernama Iqbal berkata “Kalau aku adalah Muhammad,” kata Iqbal, “aku takkan turun kembali ke bumi setelah sampai di Sidratul Muntaha.”Iqbal barangkali mewakili perasaan kita semua, siapa yang tidak ingin berdekatan dengan Allah, di langit ketujuh, di Sidratul Muntaha, terlalu menggoda untuk ditinggalkan apalagi untuk sebuah kehidupan penuh darah dan air mata di muka bumi. Dua kehidupan yang berbeda samasekali. Tapi Sidratul Muntaha bagi Muhammad adalah bukan terminal penghentian. Maka Sang Nabi turun ke bumi juga akhirnya. Menembus kegelapan hati ummatnya dan menyentuhnya dengan lembut, lalu kemudian menyalakannya kembali dengan api cinta.
Cintalah yang menggerakkan langkah kakinya turun ke bumi. Cinta juga yang mengilhami batinnya dengan kearifan saat ia berdoa setelah anak-anak Thaif melemparinya dengan batu sampai kakinya berdarah: “Ya Allah, beri petunjuk pada umatku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” Seperti juga cinta menghaluskan jiwanya sebelas tahun kemudian, saat ia membebaskan penduduk Mekah yang ia taklukkan setelah pertarungan berdarah -darah selama dua puluh tahun: “Pergilah kalian semua, kalian sudah kumaafkan,” katanya ksatria. Ah, memang seperti itulah cinta. Cinta itu indah. Dan Sang nabi telah membuktikannya. Lalu mengapa saat ini, banyak orang mengatasnamakan cinta, tetapi seiring dengan itu, hanya penderitaan lah yang didapat. Seperti kisah Laila Majnun, seperti kisah Romeo dan Juliet. Seperti kebanyakan orang saat ini, yang hilang nafsu makannya hanya karena diputus sang kekasih, yang rela meneguk satu botol baygon hanya karena ditinggal sang kekasih. Sebegitu tragiskah cinta mengajari kita? Lalu mengapa sang Nabi dengan cintanya telah sukses, membawa Islam ke puncak peradaban. Satu kesimpulan, berarti ada yang salah dengan makna cinta itu. Dan untuk selanjutnya, mari kita bincangkan lagi.
Ya, ada yang salah dengan cinta orang-orang itu. Cinta yang tak berlandaskan iman. Maka ada dua perbedaan di sini. Cinta dengan dan tanpa Iman. Mari kita bicarakan tentang Iman dan cinta. Karena kita tidak akan mungkin meraih kebahagiaan hakiki tanpa keduanya, atau kita mengabaikan salah satunya. Kita tidak akan pernah sampai kepada titik keimanan tertinggi, kecuali dengan cinta. Begitu pula sebaliknya, kita tidak akan pernah meraih cinta yang sejati, tanpa iman sebagai dasarnya. Seperti kata Ustadz Anis Matta dalam serial Cinta.
Iman itu laut, cintalah ombaknya.Iman itu api, cintalah panasnya.
Iman itu angin, cintalah badainya.
Iman itu salju, cintalah dinginnya.
Iman itu sungai, cintalah arusnya.
Begitu erat hubungan antara keduanya. Iman dan cinta. Pohon Iman tidak akan pernah tumbuh subur dan berbuah lebat tanpa adanya perawatan dari sang pecinta. Dan inilah yang berhasil dilakukan Rasulullah, dan generasi awal, para generasi terbaik yang pernah diturunkan oleh Allah ke muka bumi. Merawat Iman dengan cinta, atau sebaliknya mencintai dengan iman. Dan masih ada satu lagi yang perlu kita lihat kedahsyatannya.
Yang ketiga. Ukhuwah. Ya ukhuwah. Kata kamus, ukhuwah berarti persaudaraan yang didasarkan pada ajaran Islam atau persaudaraan yang bersifat islami. Hanya berhenti sampai titik, lalu artinya pun berhenti pula sampai di situ. Padahal, Kata sebagian orang, atau beberapa orang, ukhuwah itu manis, seperti madu, ukhuwah itu indah, bak musim semi yang penuh dengan bunga-bunga berwarna hijau dan merah. Tetapi apakah benar begitu adanya. Apakah benar ukhuwah itu madu, apakah benar ukhuwah itu seindah musim semi. Sepertinya kita tidak perlu lagi mendefinisikan makna ukhuwah, karena ukhuwah akan mendefinisikan sendiri dirinya, dan selanjutnya kita pun akan berkata, ukhuwah itu indah. Mari kita lihat makna ukhuwah menurut orang-orang ini.
Yang pertama adalah ukhuwah versi orang yang berwajah halus ini, yang berjanggut, yang matanya Nampak sayu karena kurang tidur, yang ketika mengimani shalat atau sedang memimpin perjalanan jauh, dia sempat bertanya, “Dimana si fulan? Mengapa ia tak tampak?”. Tetangganya begitu tenteram, aman dari gangguan tangan dan lisannya. Ya, ukhuwah menurut orang ini adalah renyahnya candaan yang mengasyikkan, dan candanya tak pernah berbumbu dusta. “Wahai pemilik dua telinga!”, panggilan yang pernah beliau sematkan kepada Az Zubair. Beliau tidak suka orang-orang berdiri menyambut kedatangannya, beliau yang paling awal menjenguk orang sakit, duduk bersama kaum miskin, dan memenuhi undangan budak sahaya. Inilah makna ukhuwah versi lelaki yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi Madinah kala itu, dan panutan umat Islam sedunia, inilah makna ukhuwah menurut Muhammad Al-Musthofa, nabi kita. Ukhuwah yang selalu dilandasi rasa cinta dan keimanan.
Lalu kita tanyakan makna ukhuwah menurut saudara kita ini, seorang al-akh, seorang mahasiswa yang juga aktivis dakwah. Ukhuwah menurut dia adalah selalu rindu untuk bertemu dengan saudaranya, lalu bersama-sama mendengarkan materi dari sang pemandu, lalu kalau ada temannya mengantuk, dengan lembut ia mengatakan “akhi, liqonya belum selesai”, menurut dia ukhuwah adalah bercanda riang gembira di bawah air terjun, saling menjatuhkan dalam derasnya air dalam sebuah permainan, lalu saling menyiramkan air dengan saudaranya, kemudian bersama-sama setelah rihlah bersama, makan bersama di sebuah kedai bakso dengan ditraktir murabbi. Ukhuwah menurut dia adalah membersamai saudara-saudaranya memasang pamflet, memasang baliho, lalu seterusnya berkoordinasi sampai menjelang subuh, merencanakan sebuah agenda besar, lalu ketika ditanya alasan, dia pun menjawab, ini semua demi Al-Islam.
Ah, nikmat, nikmat sekali ukhuwah berbalut keimanan dan cinta. Indah sekali ukhuwah berbaju cinta dan iman. Kebersamaan dengan saudara-saudara seiman, seaqidah akan selalu indah, dan nikmat, karena hakikat sebuah ukhuwah, sebuah kebersamaan adalah berjuang. Dalam perjuangan itu, akan musnah segala rasa khawatir dan takut, hilang segala resah dan kalut. Kebersamaan yang diridhai oleh Allah, yang telah mengikat kita dalam bingkai kebersamaan dan persaudaraan, seperti doa-doa rabithah yang sering kita ucapkan pada saat setelah subuh. Dan selanjutnya, kesulitan, kerepotan, rasa sakit, semua yang ada dalam kebersamaan perjuangan iman melahirkan kegemilangan itsar yang tiada duanya dalam sejarah. Seperti persaudaraannya Muhajirin dan Anshar, yang saling bertukar hadiah, dan sampai bertukar istri pula, dan inilah makna bersama menurut beberapa saudara kita.
Ukhuwah adalah saling memahami, kata sang murabbi, lalu sang a’dho dengan semangat menjawab, saya pernah mencuci bajunya akh Yun, saya tau makanan kesukaan akh Kit, dan sebagainya. Atau dengan media lain, ukhuwah adalah berderingnya HP al-akh karena mendapatkan sms dari saudaranya yang berbunyi “Ana Ukhibuka Fillah, akhi, ane hari ini bertemu dengan cinta, iman, taqwa, kebahagiaan, dan kemuliaan. Kemudian ana kasih alamat Antum pada mereka. Semoga mereka mendapat tempat di hati Antum”. Inilah ukhuwah, iman, dan cinta. Yang dengan ketiganya akan menuju puncak langit-langit peradaban ini. Dan di akhir tulisan, mari kita berdendang.
Malam siang berlalu
Gerhana kesayuan, tiada berkesudahan
Detik masa berganti, tiada berhenti
Oh Syahdunya…
Sejenak ku terkenang
Hakikat perjuangan, penuh onak dan cabaran
Bersama teman- teman, arungi kehidupan
Oh indahnya…
Gerhana kesayuan, tiada berkesudahan
Detik masa berganti, tiada berhenti
Oh Syahdunya…
Sejenak ku terkenang
Hakikat perjuangan, penuh onak dan cabaran
Bersama teman- teman, arungi kehidupan
Oh indahnya…
(Brothers : Selamat Berjuang)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18205/melingkar-adalah-menyulam-cinta-melingkar-adalah-kita/#ixzz1p8zDjMMg
Dosa(mu) Adalah Alasan Mengapa Harus Berdakwah
Begitu banyak generasi muda Islam yang -seharusnya menjadi penggerak dakwah menuju kejayaan Islam- menjadikan dosa-dosa yang mereka lakukan sebagai alasan untuk meninggalkan lapangan dakwah. Padahal kemunduran mereka sama sekali tidak membuat keadaan dakwah ini menjadi lebih baik, tapi justru secara tidak langsung mereka telah menjadi “musuh” yang menghambat pergerakan dakwah dengan sikap apatis mereka.
Fenomena ini adalah sebuah kesalahan yang sangat diwaspadai. Jangan sampai semangat untuk beramar ma’ruf nahi munkar menjadi pudar hanya karena dosa dan kesalahan di masa lalu. Bukankah Allah SWT telah berfirman,
“Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “ (QS. An-Nur: 21)
Maka, jangan sampai kita berhenti beramar ma’ruf nahi munkar dengan alasan kita adalah seorang pendosa. Abul Faraj Ibnul Juazi mengatakan, “Sungguh, Iblis telah berhasil membujuk rayu sebagian ahli ibadah. Dia melihat kemungkaran, tetapi tidak mengingkarinya dan tidak mencegahnya. Lalu orang tadi berkata, ‘Yang mencegah kemungkaran dan menyuruh kebaikan adalah orang yang sudah bagus dan baik. Sementara saya belum baik betul, bagaimana mungkin saya menyuruh orang lain?’ Hal ini adalah sebuah kesalahan, karena dia seharusnya (tetap) mencegah kemungkaran dan menyuruh kepada yang ma’ruf.”
Seorang lelaki pernah berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Apakah seseorang itu tetap bertahan terus sampai dia sempurna, kemudian baru mendakwahi manusia?”
Imam Ahmad menjawab, “Siapakah orang yang sempurna? Tetaplah berdakwah kepada manusia.”
Begitu pun dengan yang diwasiatkan Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah kepada Abul Qasim Al-Maghribi, “Bahwa seorang hamba pasti melakukan kesalahan dan dosa adalah sebuah kemestian yang ada pada seorang hamba. Namun dia harus meminta ampun kepada Allah, sehingga seseorang tidak beralasan (untuk tidak melakukan kebaikan), hanya karena ia telah berdosa”.
DR. A’idh al-Qarni, seorang ulama yang sangat besar perhatiannya terhadap dakwah dan generasi muda Islam saja pernah menemui seorang pelaku dosa dan memintanya agar aktif dalam lapangan dakwah pada Allah, agar dia ikut andil berceramah, ikut serta dalam beramar ma’ruf nahi munkar atau pengajian. Agar ia juga aktif memberikan kata-kata yang sejuk dan baik serta ikut dalam menasihati saudara-saudaranya. Beliau melakukan hal ini dengan sebuah alasan yang sangat baik, “karena setiap orang -walaupun pendosa sekalipun-, pantas dan berhak untuk berdakwah dan berceramah kepada manusia”. Tentunya sesuai dengan kapasitasnya.
Pertanyaannya, bukankah itu sama halnya dengan munafik?
Jawabannya, TIDAK! Mereka yang tetap beramar ma’ruf nahi munkar -walaupun mereka memiliki “kekurangan”- adalah mereka yang -Insya Allah- akan dibersihkan dan disucikan dari dosa yang telah mereka kerjakan. Bukankah Rasulullah saw. Telah bersabda -hadits ke-18 dalam Hadits Arba’in- :
“Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlaq yang baik”
Bukankah dakwah -menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan- merupakan sebuah kebaikan yang dapat menghapus dosa? Bukankah orang yang istiqamah dalam berdakwah akan lebih malu bermaksiat kepada Allah sehingga hidupnya senantiasa terarah pada jalan yang diridhai-Nya?
Ya, setiap kita pernah berbuat kesalahan… Tapi sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat. Dan dakwah tentunya dapat menjadi sarana taubat terhadap dosa dan keburukan yang telah dikerjakan. Terakhir, sebelum mengakhiri catatan singkat ini marilah sama-sama kita renungkan sabda Rasulullah SAW dalam Shahih Muslim
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau sekiranya kamu tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kamu. Kemudian Allah akan mendatangkan kaum selain kamu. Mereka berbuat dosa, dan mereka meminta ampun kepada Allah, lalu Allah mengampuni mereka.” (H.R. Muslim)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19375/dosamu-adalah-alasan-mengapa-harus-berdakwah/#ixzz1p8wxdzMq
Kamis, 01 Maret 2012
Kasing Sayang Allah
Maha Suci Allah yang telah mengeluarkan kita dari kegelapan kepada cahaya iman. Cahayanya tidak akan menyilaukan mata, justru akan menimbulkan pendaran pada orang-orang di sekelilingnya. Meskipun tidak semua mau terkena pendarannya, tidak apa, terpenting kita telah membagi sinarNya. Karena hanya hati yang telah merasakan nikmatNya bercengkerama dengan Allah yang tak sanggup menghalau cahaya iman. Dan karena hanya Allah yang mampu membuka pintu hidayah kepada hamba-hambaNya.
Jika bukan karena kasih sayang Allah yang teramat sangat pada hambaNya, pasti Dia akan tetap membiarkan kita jatuh pada lubang kegelapan. Jangan pernah menyalahkan Allah atas keburukan yang terjadi. Hanya kita saja yang selalu menghalau kasih sayangNya.
Kita adalah sumber kelemahan, sedang Allah adalah sumber kekuatan. Allah tidak membutuhkan apapun dari kita, Dia yang menciptakan kita. Kita yang sangat membutuhkan uluran kasih sayangNya. Amat sombongnya diri kita, jika telah mampu mengucapkan bahwa apa yang kita usahakan adalah jerih payah sendiri. Amat sombongnya kita, jika dalam helaan nafas pernah berniat untuk melupakan bahwa ada campur tangan Allah di dalamnya. Rabbighfirlii…
Kita lemah, kita hina, bagai debu yang terinjak. Adakalanya derajat kita terangkat, adalah kebaikan Allah kepada hambaNya. Hanya Allah, semua karena Allah. Matahari yang terbit dari Timur kemudian kembali tenggelam di Barat. Burung-burung yang melanglang mencari rizki dan pulang dengan perut kenyang. Sehelai daun yang jatuh, semua adalah takdirnya. Tiada sedetik episode seluruh alam semesta kecuali dengan campur tanganNya.
Terjatuh, semua orang pernah jatuh. Tapi tidak semua orang tersadar sedang jatuh atau tidak. Terluka, semua orang pernah terluka. Jangan dulu menghakimi Allah. Jangan dulu menggugat Allah. Jangan dulu mengasingkan Allah di dalam pikiran terlebih di dalam hati. Jika kita lupa pun, Allah tidak merugi. Kita yang akan merugi, terhapus ketenangan di dalam hati.
Sejenak ingat Allah, sejenak saja. Rasakan kehadirannya teramat dekat melebihi urat leher. Rasakan suara kita terdengar jelas olehNya. Rasakan cerita kita berada dalam genggamanNya. Karena Allah pasti akan menggenggam segala resah, doa dan mimpi-mimpi kita.
Jika kita pernah merasa teramat jauh dariNya. Segeralah merangkak menujuNya. Karena Allah akan berlari kepada kita. Tiada lagi kebahagiaan yang mampu melebihi kebahagiaan saat hati terasa tenang kala menyebut nama Allah.
Kita hanya bisa berusaha, berusaha dan berusaha berjalan kepadaNya. Jatuh bangun kita, biar Allah saja yang tau. Biar Allah yang nilai. Sungguh, kita tidak akan bisa tanpa Allah.
Jangan pernah melihat siapa yang menulis. Karena sebagai hamba, tidak pernah terlepas dari dosa.
Tapi lihatlah isinya, jika bermanfaat, maka amalkanlah.
Allahua’lam.
—
Renungan diri sendiri.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/18416/kasih-sayang-allah/#ixzz1nv8dZili
Tongkat ini padamu dik !
Tongkat ini padamu, dik. Maka memejamlah sejenak, ‘tuk luruskan kembali niat, ‘tuk kumpulkan kembali semangat, ‘tuk pulihkan kembali lelah, ‘tuk hapuskan segala resah dan gundah, Memejamlah sejenak. Namun sejenak saja, untuk kemudian kembali membukanya, untuk kembali bersemangat, untuk kembali menapaki jalan ‘lelah’ lagi bersama.
Tongkat ini padamu, dik. Maka jagalah ia. Genggam erat, dengan ukhuwah yang rapat lagi hangat. Karena sejatinya perjalanan menggenggam tongkat ini tidak mudah, tidak selalu indah, kan meminta peluh bahkan mungkin juga darah. Tentu kau butuh sesuatu yang sering kali kita sebut dengan kata ukhuwah ‘tuk dapat bersama melaluinya dan saling memperkuat.
Tongkat ini padamu, dik. Lihatlah, belajarlah, ambillah hikmah dari luka-luka pemegang sebelumnya. Jangan… jangan biarkan langkah-langkahmu terjatuh kembali pada tempat yang sama. Jangan… jangan biarkan kerikil-kerikil yang sama menyandungmu, melukaimu, atau bahkan menghentikanmu dari lari-lari optimis menuju kemenangan nyata yang telah dijanjikan-Nya.
Tongkat ini padamu, dik. Maka lanjutkanlah. Jangan memulai lagi dari awal, namun menolehlah kembali ke start untuk mengambil pelajaran ‘tuk kemudian melanjutkan. Lanjutkanlah, berlarilah, terus menuju kemenangan, atau setidaknya ‘tuk sampai kembali pada punggung penggenggam tongkat berikutnya.
Tongkat ini padamu, dik. Lagi, genggam erat, jangan biarkan ia terlepas oleh apapun sebab. Bahkan jikalah tongkat ini berbara, berduri, yang membuat telapakmu memerih… tetaplah genggam ia erat. Redamlah perih dan luka dengan Al-Huda dan sunnah rasul-Nya. Ingatlah Dia maka ‘kan meluntur segala lara.
Tongkat ini padamu, dik. Berlarilah secepat yang kau bisa. Berlarilah menuju kemenangan yang nyata. Namun jangan lengah. Jangan sampai tak terarah, jangan tanpa berencana. Berlarilah layaknya profesional yang mengejar menang dengan strategi dan kelihaian dalam segala peran.
Tongkat ini padamu dik. Beriring tangis, penuh cabik-cabik, gelisah, dan sedikit gundah berpindahlah ia. Beri yakinlah kami bahwa kau akan senantiasa menjaga, meninggikan, menguatkan, dan membawanya ke titik tertinggi dari kesejatian pengabdian dan penghambaanmu kepada Rabb semesta alam.
Tongkat ini padamu, dik. Berbaik-baiklah menjaganya. Inilah masa untukmu membintang dengannya. Menyempurnalah dengan sinar dari sinar-Nya. Menguatlah selalu dengan ingatan cita besar kita akan firdaus, ‘Adn, na’iim, darussalam atau khuldi yang atas izinnya kelak kan menjadi muara kita melepas rindu dan dahaga akan cinta.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/18417/tongkat-ini-padamu-dik/#ixzz1nv7vBFYR
Islam Liberal 101
dakwatuna.com - Di tengah-tengah kekhawatiran akan ancaman liberalisasi Islam, buku “Islam Liberal 101” hadir ke tengah-tengah kita. Akmal Sjafril, penulis buku ini, tampak merasakan betul ancaman hebat ini. Karena memang ia terlibat aktif dalam peperangan pemikiran yang terjadi saban hari. Itulah sebabnya mengapa sejak halaman-halaman awal buku ini, kita tampak sedang menonton pertarungan yang luar biasa dahsyat.
Sejak bab awal dari buku ini, penulis langsung memasuki ‘medan peperangan’. Akmal mengkritik habis kesombongan orang-orang yang menolak kebenaran bukan karena tidak tahu kalau itu kebenaran, tapi dengan bermacam-macam alasan yang sejatinya hanya sebagai pelarian. Sikap lebih percaya terhadap penuturan orang-orang kafir (orientalis) mengenai Islam daripada penuturan alim-ulama Islam sendiri juga tak luput dari kritikan pedas penulis. Untuk apa umat Islam belajar Islam kepada orang kafir, padahal orang-orang kafir pasti menganggap Nabi Muhammad saw sebagai pendusta, sehingga semua kata-katanya tidak terjamin kebenarannya (hlm. 20).
Di sini, sikap acuh orang-orang liberal terhadap kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw diserupakan dengan kesombongan iblis yang terang-terangan menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam as, dan merasa Allah telah keliru mengambil keputusan. Karena sikap sombong telah menyatu dengan jiwa iblis, maka melakukan kekafiran seperti itu iblis bukannya minta maaf, namun ia malah menantang Allah SWT agar dipanjangkan umurnya untuk mencari pengikut. Jadi kesombongan iblis bukan hanya menunjukkan kebejatannya sendiri, melainkan juga menunjukkan kepada kita bahwa sombong itu tak ada batasnya. Iblis bukan hanya merasa lebih hebat daripada Nabi Adam as, akan tetapi juga merasa lebih tahu daripada Allah (hlm. 14).
Bagaimanapun, memperbincangkan liberalisasi Islam di Indonesia tidak mungkin dipaksakan untuk tidak juga memperbincangkan Jaringan Islam Liberal (JIL). Kelompok inilah sebetulnya yang bertanggung jawab sejak awal akan kerancuan pemahaman tentang Islam di Indonesia. Bayangkan, nama “Islam Liberal” saja sudah rancu dan mengandung kesalahan-kesalahan yang tidak mungkin dikompromikan. Lebih-lebih lagi ide-ide pokok yang mereka usung, tentu amat jauh dengan prinsip-prinsip yang dibangun Islam. Karena itu, mengetengahkan topik “Islam Liberal atau Agama Liberal” dalam salah satu bagian dari buku ini, tampak menemukan relevansinya yang pas dengan JIL, sebagai representasi dari Islam liberal di Indonesia.
Dalam hal ini, Akmal mencatat setidaknya enam poin landasan agama baru yang bernama JIL ini, yang tertera di situs resmi mereka, yaitu; (1) membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam, (2) mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literalis teks, (3) memercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural, (4) memihak pada yang minoritas dan tertindas, (5) meyakini kebebasan beragama, (6) memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik. Lebih lanjut, Akmal menganalisis satu-persatu dari poin tersebut untuk kemudian dapat ditarik benang merah bahwa sekularisme merupakan kredo utama dari agama liberal ini (hlm. 94-100).
Pada tataran selanjutnya, penulis menganalisis secara cermat akan modus operandi yang biasa digunakan oleh para punggawa liberal dalam memasarkan pemikiran-pemikiran mereka. Di sini, penulis menemukan sejumlah trik yang biasa digunakan oleh orang liberalis, seperti permainan istilah, tuduhan palsu, pembelokan masalah, pemotongan ayat, dan lempar batu sembunyi tangan. Ulasan yang blak-blakan di bagian ini tampak memaklumkan kepada para pembaca akan siapa sebenarnya orang-orang liberal itu dan bagaimana taktik berperangnya sekaligus cara penanganannya. Dengan memahami modus operandi mereka dengan baik, kita berpeluang besar untuk mengunci mati titik-titik kelemahan mereka bahkan sebelum peperangan dimulai. Ini merupakan bekal penting untuk meladeni bualan sekte-sekte liberal.
Namun kendati kita telah memahami kunci-kuncinya, bagaimanapun berperang dengan kelompok liberal bukanlah perkara mudah. Sebab dapat dipastikan ketika liberalis kalah, mereka malah melontarkan ungkapan-ungkapan cemooh sebagai ‘pintu keluar’ ketika posisi mereka tersudut. Dalam hal ini, penulis tidak ketinggalan menelanjangi aib kaum liberalis, bahwa sebenarnya mereka yang mengaku-ngaku sebagai gerakan progresif dan modern sebenarnya tak lebih dari orang-orang yang tidak memiliki kualitas ilmiah dalam berdiskusi. Mereka adalah penganut paham relativisme sejati yang menolak absolutisme, di mana antara diskusi dan relativisme terdapat jurang pemisah yang sangat dalam. Dengan paham relativisme, nilai penting sebuah diskusi benar-benar hilang, karena menurut mereka semua pendapat itu benar. Namun demikian, sebenarnya dalam waktu bersamaan mereka telah meruntuhkan paham relativisme itu sendiri. Kaum liberal menggunakan alasan relativisme untuk menyebarkan propagandanya tanpa diskusi terlebih dahulu, namun kemudian menggunakan alasan relativisme yang sama untuk menolak kebenaran absolut yang diajukan oleh pihak lain. Dengan sendirinya, para penganut relativisme secara tidak langsung telah menolak relativisme itu sendiri, sebab relativisme itu sendiri adalah suatu pendapat yang dianggap sebagai kebenaran absolut (hlm. 152).
Paparan terakhir ini memberi kesan yang teramat kuat kepada kita, bahwa sebetulnya orang-orang liberal itu tak lebih dari orang-orang munafik. Jika dipikir-pikir, label ini memang tidak keliru. Sifat-sifat orang-orang munafik yang dicatat al-Qur’an yang dijelaskan dalam buku ini, yang kemudian dikaitkan dengan bentuk-bentuk kemunafikan di zaman modern ini, tampak sangat klop dan serasi. Bahaya orang-orang munafik sebagai musuh dalam selimut lebih besar daripada musuh di depan mata. Tikaman dari belakang jauh lebih sulit dihindari daripada serangan frontal. Dan hal ini telah diperingatkan oleh al-Qur’an jauh-jauh hari (hlm 202). Maka dari itu, waspadai dan terus perangi orang-orang liberal munafik yang kadang berlagak simpatik itu.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/19074/islam-liberal-101/#ixzz1nv6r9naT
Ini Sebuah Kebutuhan, Bukan Sebuah Keterpaksaan
Mungkin sebagian dari kita, bertanya-tanya. Mengapa kita berada di jalan ini? Jalan ini bukanlah jalan yang ditaburi bunga-bunga harum, bukan jalan yang mudah ditempuh. Namun, jalan ini adalah jalan yang penuh onak dan duri. Jalan yang tidak semua orang bisa menikmatinya dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan keistiqamahan.
Bukankah kita sepatutnya iri, melihat mereka yang menghabiskan masa mudanya untuk bersenang-senang, tanpa perlu memikirkan suatu hal yang mungkin hanya memberatkan pikiran saja. Tak perlu menghadiri SYUTING* untuk membahas masalah tertentu, tak perlu menghadiri kajian yang terasa menjenuhkan, tak perlu mengingatkan orang lain untuk terus berbuat baik.
Apakah keberadaan kita di jalan ini, hanyalah sebagai bentuk sebuah keterpaksaan, ikut-ikutan, tanpa mengetahui orientasi sesungguhnya kita berada di jalan ini. Atau jangan-jangan ki dari penampilan kita mendukung mengenai eksistensi keberadaan di jalan ini, namun hati kecil kita menolaknya karena belum siap menerima.
Teringat pada sebuah buku kecil, namun manfaatnya sungguh luar biasa.”Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami”
“Sesungguhnya keberadaan kami di jalan ini adalah kebutuhan kami sendiri. Rasa kebutuhan yang begitu mendalam. Bahkan lebih dari sekedar kebutuhan, karena kami melangkah di jalan ini dengan penuh rasa syukur atas hidayahNYA kepada kami.
Dia mampu untuk melakukan sesuatu tanpa memerlukan kita di jalan ini, Dia mampu untuk mengatur segala proses yang terjadi di alam semesta ini sendiri, Dia mampu untuk menegakkan agama ini sendiri, tanpa perlu membutuhkan bantuan kita. Namun, tahukah sobat? Bahwasanya Dia sedang menguji kita. Menguji keistiqamahan kita. Menguji keteraturan barisan kita. Kebutuhan kita untuk mencari amal sebanyak-banyaknya, sebagai penolong kita dari azab Nya adalah dengan bergabungnya kita di jalan ini.
Bahwasanya Dia akan murka jika tak ada di antara kita yang berjuang untuk menyampaikan kebenaran. Dia akan memberikan azab kepada kita semua tanpa terkecuali. Karena keberadaan sekelompok orang yang menyuarakan kebenaran, akan menjadi penghalang turunnya azab ALLAH.
Jika sampai saat ini kita masih merasa penuh sesak, letih, ingin mundur dari jalan ini karena beberapa hal. Pikirkanlah! Karena sepatutnya lah kita bersyukur menjadi “pioneer” di jalan ini. Mengingat akan begitu banyak rintangan dan hambatan yang akan kita temui, tidak bisa merasakan hasil perjuangan secara langsung. Karena bagaimanapun kita menyeru pada kebaikan. Semuanya kita kembalikan pada sang pemilik hidayah. HidayahNya akan diturunkan pada hamba-hambaNYA yang membuka diri, pada mereka yang mencari, bukan mereka yang menunggu.
Di jalan ini pula kita akan bertemu dengan berbagai macam karakter penempuh perjalanan, untuk itulah kita dituntut untuk menjunjung tinggi rasa toleran di antara sesama. Jangan mudah terpecah belah karena hal-hal yang tak perlu diperdebatkan. Lihatlah kebaikan, dan kelebihan mereka. .Jadikanlah mereka sebagai sumber motivasi untuk terus meningkatkan kinerja penempuh perjalanan. Contohlah Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya yang masing-masing mereka memiliki kelebihan satu sama lain. Mereka saling melengkapi tanpa perlu membanding-bandingkan satu sama lain. Karena setiap manusia memiliki cara dan kelebihannya tersendiri untuk tetap bertahan di jalan ini.
Seseorang bertanya.
“Kenapa perjuangan itu pahit?”
“Karena Surga itu manis…”
“Kenapa perjuangan itu pahit?”
“Karena Surga itu manis…”
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/19114/ini-sebuah-kebutuhan-bukan-sebuah-keterpaksaan/#ixzz1nv6FLxSd
Jangan kalah dari Karl Marx
dakwatuna.com - Fenomena aktivis dakwah yang berguguran di jalan juang sudah bukan hal baru dalam dunia dakwah. Dinamika dakwah yang luar biasa menyita seluruh energi individu kader tak bisa dielakkan. Hanya yang mampu bertahan yang akan tetap berada dalam perjalanan menuju tegaknya peradaban yang selalu dinantikan. Semakin melaju kencang keluar dari orbit terkecil hingga pancapaian sekarang seharusnya semakin membuat kader sadar bahwa energi harus selalu dilipatgandakan.
Mungkin itu selalu terbesit dalam benak semua kader namun tidak di saat posisi dilematis menghantui mereka. Antara cita dan cinta pilih yang mana? Pembicaraan kali ini akan kita kerucutkan kepada mereka para aktivis dakwah kampus yang akan menatap masa depan kehidupannya pasca amanah di Dakwah Kampus selesai, pasca gelar sarjana di rayakan dalam seremoni wisuda.
Haru biru yang mewarnai wisuda apakah juga menandakan haru biru mereka akan masa depan dirinya dalam dunia dakwah? Macam-macam, ada yang agaknya lupa karena sibuk interview dimana-mana, senang karena amanah di kampus sudah selesai, bingung mengurusi surat transfer kepindahan halaqah, dan lain-lain.
Saya rasa pembaca pernah mendengar orang-orang di luar sana mencibir terkait perilaku mantan-mantan pendakwah di kampus masing-masing. “Bukannya dia ikhwan ya? Koq sekarang pacaran?” atau “Dia akhwat kan? Sekarang sudah mengenakan celana panjang dan jilbabnya sudah tak lebar lagi!” Begitulah yang terjadi, apa penyebabnya, banyak faktor.
Yang kali ini saya akan bahas adalah tipe aktivis yang bingung memilih antara cita-cita pribadi dengan cintanya pada Dakwah. Seperti telah disebutkan di muka, antara cita dan cinta pilih mana? Pilihan ini akan sangat menentukan keberlanjutan hidup seorang aktivis dakwah bukan hanya kelanjutan aktivitas tarbawinya saja.
Jika ia egois dan memilih cita-cita bukan tidak mungkin ia adalah bagian dari prajurit yang gugur di medan dakwah dan menjadi orang seperti di atas dimana perilakunya sudah menunjukkan kepergiannya dari lingkaran cinta. Kecuali ia sudah mempersiapkan perencanaan dakwah selanjutnya. Tapi sekali lagi jika ini adalah pilihan egoisme pribadi. Yang kedua ia yang memilih menekan egoisme pribadi dengan memilih cinta, apa yang akan terjadi padanya? Mari kita melihat kisah seorang yahudi ini, ia adalah Karl Marx.
Karl Marx adalah seorang filsuf, pakar ekonomi politik, dan sosiolog yang pemikiran-pemikirannya mampu berpengaruh sampai saat ini. Yang dikenal dengan teori marxis dan lain sebagainya. Ia hidup miskin selama hidupnya dan hampir tak mampu bertahan hidup dengan sedikitnya pendapatan dari tulisan-tulisannya dan bantuan Engel sahabatnya. Semasa hidup ia mengabdikan diri pada petualangan politik dan intelektualnya. Ia aktif di gerakan pekerja internasional untuk melakukan berbagai gerakan Revolusi sebagaimana yang ia yakini dan ia tulis. Ia mati dengan meninggalkan jejak sejarah yang mampu menggerakkan manusia.
Kisah Marx di atas bukan dimaksudkan untuk kita mengaguminya, namun kita akan ambil sebuah pelajaran dahsyat dari seorang Marx. Terlepas dari pemikirannya, Karl Marx yang seorang Yahudi saja berani dan yakin memilih cinta dan masuk pada lahan-lahan perjuangan. Padahal bisa saja ia memilih hidup nyaman sehingga ia tak akan hidup sulit.
Inilah yang akan didapatkan dari pilihan cinta. Melihat realita kebanyakan aktivis dakwah kita patut bertanya mengapa para aktivis dakwah tidak bisa seperti Marx, padahal sudah dijamin oleh Allah dalam berbagai firman-Nya, salah satunya:
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 47)
Kita bisa lebih hebat dari Marx karena kita umat Muslim, karena kita Aktivis Dakwah. Masihkah kita ragu akan janji Allah? Sudah banyak para pendahulu membuktikannya. Dan keyakinan Marx akan perjuangannya adalah cambuk buat kita sebagai umat Muslim khususnya para aktivis dakwah yang melepaskan cintanya pada perjuangan dakwah.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/18539/jangan-kalah-dari-karl-marx/#ixzz1nv2tNzcF
Kamis, 23 Februari 2012
0
Mungkin kita sama-sama telah familiar sebuah ungkapan Tak kenal maka tak sayang, maka apabila tidak kenal maka menjadi sebuah jalan dari ketidak sayangan kita pada yang tidak kita kenali tersebut. Maka apabila kita sebagai seorang muslim tidak mengenal Rasullah SAW maka adalah sebuah bahaya yang besar karena tanpa mencintai Rasullah SAW maka akan jatuh kepada sebuah kehinaan di akhirat kelak. Imam Al Qurtubi dalam menafsirkan Surah Al kahfi ayat 18 menafsirkan bahwa dimana beliau menyorot ada seekor anjing, dimana anjing tersebut merupakan sahabat dari ashabul kahfi, kata Imam Al Qurtubi: maka coba kita bayangkan seekor anjing saja yang membersamai orang-orang yang mulia dan setia kepada mendapatkankan kemulian yang sama besar pula, namun bagaimana seorang insan yang kemudian dia membersamai orang-orang yang juga mulia didalam cinta dan ketaatan juga kesetiaan kepada mereka, hendaklah ini menjadi perhatian bagi orang yang masih merasa teledor dalam ketaatanya kepada Allah bagi yang sering merasa lalai dalam mengingat Allah, bagi yang sering kemudian didalam kehidupannya terkadang terjerembat didalam kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah. Sungguh kita ini semua adalah manusia yang tidak pernah lepas dari kesalahan kesalahan.
Maka mencintai Rasulullah adalah sebuah kemuliaan adalah sebuah kebersamaan yang sangat agung, sebagaimana sebuah hadis yang di tahridz imam muslim dibawakan oleh perawi teratas Anas bin Malik ra, datang seorang kepada Rasullah Saw, mereka bertanya kepada Rasulullah wahai rasul kapan datang hari kiamat? Namun rasul menjawab apa yang telah kau persiapkan untuk menhadapinya? Orang itu menjawab maka sesungguhnya aku ini aku mencintai Allah dan rasulnya sebagai bekalku untuk menghadapi hari kiamat dan Rasulullah SAW menyahut kepadanya dan engkau akan membersamai orang yang kau cintai.
Maka Anas sangat berbahagia dengan hadist tersebut dan dia mengatakan tidak akan dan demi ALLah bila ada orang yang menukarnya dengan bumi dan seisinya maka tidak akan aku berikan, sebab kegembiraanku datang dari kata-kata Rasulullah mengatakan engkau akan membersamai orang yang engkau cintai, aku ini apabila melihat kepada ibadahku salatku, ketaatanku, puasaku, zakatku sedekahku hajiku umrahku juhadku tilawah qur’anku dan semua kebaikan yang pernah kulakukan maka sungguh demi Allah kebaikanku itu tidak ada seujung kuku dibandingkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW Abu bakar dan Umar bin Khatab ra, tetapi yang keadaanku dalam amal sholeh samasekali tidak mencapai seujung kuku mereka itu tetapi dalam hati aku mencintai mereka, maka demi Allah aku berharap meskipun amalku tidak sebaik Rasulullah SAW Abu bakar dan Umar bin Khattab tetapi Allah SWT kelak didalam surga akan membersamakan aku dengan mereka karena aku mencintai mereka.
Maka mencintai Rasulullah adalah sebuah hajat paling agung bagi kita sebab kita sadar sebagai hambanya sebab kita jauh dalam mengamalkan kebajikan yang beliau tuntunkan, kita jauh dari terhiasi akhlak mulia sebagaimana belaiu tampilkan kita jauh dari apa-apa yang belaiu jalani dalam kehidupan.
Maka bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah, suatu saat belau dilempar batu dan kena di pelipis dan darah mengucur deras dan beliau tangkupkan kedua tangannya untuk menampung darah itu, kenapa beliau menangkupkan tangannya karena supaya darahnya tidak sampai jatuh kebumi, sebab andai sampai darah itu menetes dibumi sebagaimana disampaikan oleh jibril: Ya Rasulullah andai darah itu sampai menetes dibumi maka Tuhanmu akan murka pada kaum yang membuat kau meneteskan darah itu dan akan mengazab mereka. Jadi Rasulullah menangkupkan tangannya menahan darahnya agar tidak jatuh kebumi itu bukan karena sakit, ia mungkin beliau kesakitan dan sangat pedih sekali namun yang membuatnya menangkupkan tangannya itu karena ia tidak ingin kaumnya mendapatkan azab karena darahnya yang suci nan mulia itu menetes ke bumi maka beliau tampung jangan sampai kemudian jatuh, kalau sampai jatuh kebumi menetes ditanah Allah murka dan kaumnya sampai di azab, atau dalam kisah lain bagaimana Rasulullah di lempari batu, kotoran diteriaki gila, dikejar-kejar tersaruk-saruk hingga beliau menghindarkan diri dari orang-orang yang tidak berperikemanusiaan itu sambil mengatakan. ya Rabbi ampuni mereka, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan, Ya Rabbi ampuni mereka, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Bagaimana kita tidak mencintai seseorang yang di caci dihina, dikatakan gila, tidak waras dikatakan penyair dikatakan dukun dikatakan ahli sihir yang memisahkan manusia, yang ketika dicaci maki membalas pujian, ketika di sakiti membalas punjungan, maka bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah ketika para sahabat mengeluhkan kelaparan hingga mengatakan sampai mereka mengganjal perutnya dengan batu namun ternyata Rasulullah SAW telah mengganjal perutnya dengan dua buah batu atau dalam perang uhud beliau dihantam dengan cakram besi hingga masuk kedalam pipi beliau, semua itu karena beliau sayang kepada kita, memperjuangkan agama ini hingga sampai kepada kita.
Seharusnya sangat muda mencintai pribadi yang sangat mempesona seperti Rasulullah SAW, bagaimana tidak ketika dalam keseharian kita ada seseorang yang membantu kita atau oranr yang baik kepada kita maka kitapun pasti membalas kebaikannya bahkan sangat mencintainya, apalagi kepada Rasulullah lewat pengorbanannya lewat perhatiannya lewat kasih sayangnya kepada kita sebagai umatnya.
Tetapi kondisi saat ini umat islam kita sendiri terkadang lebih mengenal artis idola kita ketimbang Rasulullah, lebih mencintai idola kita daripada Rasulullah, dan bahkan bila mencermati kondisi saat ini anak muda yang sedang demam korea bahkan hampir setiap saat pikirannya tentang hal itu bahkan bicaranya selalu itu hingga pernak-perniknya serba idolanya, betapa besar cintanya kepada idolanya yang berteriak-teriak hingga menjerit-jerit ketika melihat idolanya, kembali ke hadist di atas maukan kita dibersamakan diakhirat kelak dengan mereka, Na’udzubillah min dzalik.
Semoga hadist tersebut dapat mengingatkan kita terutama kepada saya sendiri untuk senantiasa memperbaiki marhalah cinta kita, berusaha mengenal kembali sosok uswah yang Allah SWT ciptakan begitu sangat mempesona, agar kita mengenal dengan baik yang menjadi jalan kita untuk mencintainya, sehingga amalan kita yang sangat-sangat tidak seberapa didunia ini namun mendapat tempat yang mulia karena cinta kita kepada orang-orang yang mulia,.
Wallahu’alam bi showab,..
Langganan:
Komentar (Atom)




